By: nugie
Hati saya miris begitu baca detikcom yang memberitakan ada kekerasan terhadap anak atawa bahasa kerennya bullying, yang terjadi di SMA 82.
Padahal SMA itu mengklaim bahwa sma mereka adalah sekolah percontohan anti bullying di DKI JAKARTA..gimana ngga keren coba, SMA negeri elit di selatan Jakarta Dimana uang masuknya dan SPPnya lebih mahal, dari pada harga hp CDMA..lulusannya banyak diterima di PTN ternama, tapi masih mempraktekan kekerasan tak bermoral. Weleh… weleh..
Ketika ini terjadi, Pasti pihak sekolah selalu akan menyalahkan oknum siswa yang melakukannya. Dalam berita di detikcom, wakil kepseknya malah bilang, seharusnya persoalan ini diselesaikan secara kekeluargaan.Lha mana Koq bisa ya.. seorang pejabat sekolah ngomong gitu? Orang udah dianiaya koq masih kekeluargaan.Pidana dong…
kalo seperti itu, kelakuan para senior, maka bukan mustahil, tahun depan peminat sekolah itu akan menurun, karena ngga ada ortu yang pengen anaknya dipukulin karena masuk sekolah itu.
Pihak sekolah pasti akan beralasan itu hanya kasuistis dan insiden, tetap saja ada peristiwanya yang menjadikan susu sebelanga rusak karena setitik nila
Kasus Ade, adalah tamparan dipipi kiri dan kanan sekaligus bagi para gurum siswa dan sekolah itu.
Tamparan pertama, para guru yang seharusnya menjadi pendidik, gagal mengantisipasi kekerasan yang terjadi di sekolah mereka.Belum lagi sekolah ini mengklaim sebagai sekolah percontohan.RRRUUUUAARRRR biasa Jahanamnya..ketika kekerasan ini terjadi.
Saya yakin, para guru (di SMA 82) notabene nasibnya jauh lebih baik daripada guru bantu di Jakarta. Sehingga mereka seharusnya lebih memerankan diri sebagai pendidik bagi siswa-siswa.tapi kenyataannya masih ada kekerasan di sekolah anti kekerasan itu.. lalu para siswa SMA 82 harusnya malu…menyandang predikat sebagai siswa di sekolah percontohan anti Bullying..atau sebaliknya ya..sekolah percontohan kekerasan pertama di JAkarta
Tamparan kedua, tentunya bagi sekolah itu sendiri yang gagal membuat sebuah sistem dan subcultur bebas bullying, karena kekerasan terus terjadi.para guru di SMA itu, tak bisa membuat sebuah budaya baru yang mengedepankan intelektualitas, dan emotional dan spiritual quotion kepada para muridnya.Saya lagi berpikir, jangan-jangan ideologi uang dan kekuasaan yang justru diajarkan para guru kepada para muridnyya? Soalnya, ketika uang dan kekuasaan menjadi panglima, maka semua cara akan dilakukan untuk mendapatkannya,termasuk dengan kekerasan.
Kalo begitu, mau apa dan mau jadi apa sih si pelaku dengan mukulin junior? seperti apa sih mereka? Kalo diajakin berantem satu lawan satu, berani ngga ya? Apa orang tua mereka ngga ngajarin caranya menghormati orang lain? atau jangan-jangan mereka (pelaku pemukulan) emang makan “uang haram”, jadinya kelakukan mereka rada2 barbarian?
Nasib menjadi “Ade”
Oh ya sebelum lupa, ini musibah yang terjadi pada Ade, diambil dari detikcom.Tentunya udah disunting ya.
Ade Fauzan babak belur akibat kekerasan yang dilakukan senior-seniornya di SMAN 82 Jakarta. Mulut Ade mendapatkan jahitan, tempurung kepalanya bagian belakang pun memar.
“Hasil pemeriksaan dokter, Ade luka di mulut dan perlu mendapat 3 jahitan di dalam dan 3 jahitan di luar,” ujar tante korban, Elo di RS Pusat Pertamina (RSPP), Jl Kiai Maja, Jumat (6/11/2009). telinga Ade membiru. Selain itu juga tampak bekas luka layaknya bekas cambukan di tangan kirinya. “Hasil CT-scan, ada memar di tempurung kepala bagian belakang,” kata Elo. Ade telah 4 hari terbaring lemas di RSPP pun terlihat tidak berdaya.
Keluarga melapokan kekerasan tersebut ke Polsek Kebayoran Baru dan masih menyimpan baju sekolah Ade yang berlumuran darah serta celananya.
Ade mendapatkan kekerasan dari senior-seniornya, disebabkan ia berjalan di Koridor Gaza di SMAN 82. Koridor tersebut hanya dapat dilewati siswa kelas III saja. Walhasil, Ade pun kena ’serangan’.
Ini lanjutannya (masih dari detikcom)
Jalur Gaza’ di SMAN 82, Jl Daha, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, sudah lama ada. Tidak ada yang tahu siapa pencetus istilah tersebut.Seorang alumni angkatan 1999 mengaku, bahwa nama jalur gaza sudah dikenal sejak dulu. Jalur Gaza adalah sebutan untuk koridor di sepanjang depan kelas XII (kelas 3) sebanyak 9 kelas di samping lapangan basket. Bagi seluruh siswa kelas X (kelas 1) dan XI (kelas 2), dilarang melewati koridor tersebut tanpa alasan yang jelas.
“Jadi, jika ada siswa yang mau ke kantin, haru memutar dengan melewati koridor lainnya”. Ini yang penting lagi, Peristiwa bullying di SMA 82 ternyata tak cuma kali ini terjadi. Pada masa lalu, kekerasan dari kelas XII ke adik kelas sudah lumrah terjadi. Dari larangan bawa mobil hingga kekerasan fisik.
Menurut seorang alumni, ketika dia duduk di 3, ada siswi kelas 1 yang mukanya dicorat-coret menggunakan spidol karena melanggar aturan senioritas itu. Siswa itu mengadu ke orang tuanya.
“Lantas beberapa dari kami dibawa ke Polsek Kebayoran Baru. 3 Dari kami harus wajib lapor tiap minggu. Saya kira, itu terakhir kali Jalur Gaza eksis. Ternyata masih ada ya,”
Nah loh..!!!! sekolah model gini koq dapet predikat sekolah percontohan anti bullying? Dimana contohnya? Wakakakkk…
Mungkin ini nasib menjadi seorang “ade” kelas..selalu ditindas, dilecehkan , dipermainkan, dianiaya, oleh para seniornya. Kalo benar seperti itu, alangkah malangnya mereka yang baru menginjak “level satu” alias beginner alias junior dimana pun berada. Mulai dari SD sampe Perguruan Tinggi.Para pemula yang baru masuk institusi baru, seharusnya mendapat orientasi tentang apa yang akan dihadapi, bukannya dihajar.
Jadi inget waktu kuliah dan sekolah dulu..waktu kuliah, memang saya pernah mendapat “orientasi” dari pada senior, tapi menurut saya masih dalam taraf wajar. Seingat saya ngga ada tuh, penganiayaan dengan jalan dipukulin macem gitu..kalaupun ada, lebih kepada pembinaan mental seperti berlatih menghadapi deadline tugas kuliah, kerjasama tim, dsb…(kalo di jurusan saya dulu namanya inisiasi) Jurusan Kriminologi di FISIP UI memang dikenal angker, tapi mahasiswanya pada kalem-kalem, angker karena memang suka berantem satu lawan satu dan bukan keroyokan…
Ah..nostalgia memang menyenangkan…
Kembali ke si Ade,
Sub Budaya kekerasan
Jadi inget masa-masa kuliah dulu, saya pernah diajari sebuah teori subculture of violence menurut kriminolog Wolfgang & Ferracutti..Ini adalah teori klasik Kriminologi, dimana ada kelompok yang memang menciptakan dan membudayakan kekerasan dilingkungan mereka.
Kalo di Amerika sono, sub kultur budaya bronx, atau ghetto memang mengakomodir kekerasan. Ini lebih karena keinginan untuk bertahan hidup, di lingkungan yang serba minim fasilitas, dan ketidakmampuan daya jangkau ekonomi.
Subcultur of violence ini terbentuk, karena ada kelompok masyarakat yang tak mampu mengikuti cultur yang ada di masyarakat.Kemudian mereka mencari cara agar bisa diterima di masyarakat, tentunya dengan cara mereka sendiri.
Menurut saya Kalo di SMA 82, subkultur kekerasan ini diwariskan oleh senior kepada junior. Subkultur ini berkembang ketika ada dari sebagian siswa yang merasa tak diterima secara nilai oleh lingkungan.
Mereka para pelaku kekerasan sebenarnya adalah alien bagi lingkungan mereka. Karena asing, individu-individu membentuk sebuah kelompok dan membuat sebuah aturan budaya sendiri. Aturan mereka tentu akan dibenturkan dengan nilai besar yang berlaku di sekolah, dan dipraktekan diam-diam.Para penganut subculture of violence ini bisa terang-terangan atau sembunyi-sembunyi mempraktekan nilai yang mereka anut.Untuk kasus Ade, keliatannya para pelaku memilih sembunyi-sembunyi mempraktekannya.
Disini ada konflik nilai antara sekolah dengan para pelaku bullying. Agresifitas terhadap Adem yang terjadi adalah bentuk nyata dari konflik tersebut. Sebagian dari para pelaku bullying terhadap Ade merasa bahwa mereka menjadi seseorang setelah mampu menekan seseorang.
Deliquency alias kenakalan terjadi karena mereka merasa perlu untuk melakukan perlawanan terhadap nilai umum di sekolah mereka.Karena itu, Mereka kemudian membentuk “geng”, untuk mengakomodir conflict of norms tersebut.
Makanya kemudian tidak heran muncul istilah “jalur Gaza” , “lorong maut”, atau istilah lainnya yang biasa berkembang di kalangan siswa.Istilah itu disebarkan kepada siswa lain, sehingga lama kelamaan diterima.
Sistem atau oknum?
Ade sudah babak belur, sekolah lepas tangan, pelaku bebas berkeliaran.lantas siapa Ade selanjutnya? Pertanyaan ini pantas dikemukakan karena tidak pernah jelas kelanjutan kasus bullying ini.Sekolah menganggap bahwa kekerasan adalah bagian dari kenakalan masa puber. Ingat kasus penganiayaan alumni terhadap siswa SMA 34? Kasusnya berlalu begitu saja, meski ada yang dikeluarkan dari sekolah.
Ini dia kesalahannya.Sekolah selalu menganggap bahwa norma atau nilai yang mereka tanamkan kepada siswa tidak mendapat pertentangan karena kemampuan sekolah untuk “merepresi” para siswa.
Padahal tidak demikian, Sistem pengajaran , pendidikan dan pemberian nilai, harus dievaluasi, sehingga mereka yang teralienasi merasa terakomodasi nilainya, dan tidak perlu membuat counter culture terhadap apa yang telah menjadi konsensus sekolah.
Sistem sekolah percontohan anti bullying itu mesti dievaluasi lagi, jangan-jangan predikat itu didapat dengan jalan yang tidak benar. Kepala sekolah harus dievaluasi kinerjanya.Para guru harus ditatar lagi untuk mengetahui metode ajar dan didik yang lebih baik.dan sebagainya lah…Jadi bukannya sekedar menyalahkan oknum siswa.
Tapi saya koq tiba-tiba jadi sinis sama SMA ini..Jangan-jangan..buat masuknya itu..perlu “sesuatu” (kayak kasusnya anggodo)
Atau jangan-jangan memang subculture of violence sengaja dibudayakan di sini…dan sekolah tutup mata aja selama terima duitnya dari para orang tua, sehingga kekerasan inheren di sekolah itu.
Kalo bener begitu, cuuucok lah jadi sekolah percontohan kekerasan.
By: Masrur Jamaluddin
Berlin sedang tidak bersahabat. Bulan Juni yang seharusnya menjadi milik musim panas, kini masih dikuasai dingin yang menggigit. Kehangatan matahari terlambat datang tahun ini.

