Koin Prita Dan Keadilan Untuk Semua

prita_mulyasari

Saya rasa, saya tidak akan memulai tulisan ini dengan kata – kata klise ” Sudah lama…..” Anda dan saya sama – sama tahu sudah lama sekali. Seperti kereta yang terus melaju pada relnya, dalam kurun itu banyak sekali peristiwa yang kita lalui, Anda dan saya.  Banyak pula tokoh – tokoh yang bersinggungan dengan kita, para penyayang, pemurah hati, penghianat, gila kuasa, mabuk penghormatan, oportunis dan banyak lagi. Semuanya memberikan kesan yang berbeda – beda dan sedikit banyak mempengaruhi pribadi kita dalam mencitrakan hidup.

Oke, let me get straight to the point. After all,  kritikus blog saya yang setia (dan hanya satu, Cany, Istri saya) selalu menyarankan agar saya tidak terlalu njelimet menuangkan isi kepala untuk menjadi tulisan yang harapannya akan dibaca orang lain. Baiklah, begini, anda pasti kenal Prita bukan? Jadi saya akan melongkap tanpa menjelaskan siapa dia dan apa yang dihadapinya. Intinya, setelah Pengadilan Tinggi Banten memutus banding kasus perdatanya, Prita Mulyasari wajib menjalankan vonis untuk membayar kerugian yang dialami RS. Omni Internasional, karena “tercemar nama baiknya” sebanyak 204 juta rupiah. Kenyataan ini, pahit buat Prita dan mungkin membuat geram sebagian (besar) dari kita. Ini setidaknya saya ukur dari komunitas dunia maya. Lalu mengelindinglah prakarsa ini: “Kumpulkan koin untuk “menebus” keadilan buat Prita senilai 204 juta rupiah (ada yang mengestimasi beratnya hingga 2,5 ton).” Wacana ini diamini banyak pihak. Senin adalah hari besar untuk “pemberontakan indah” ini. Koin – koin dari penjuru Indonesia dikumpulkan. The Revolt Is On Baby! Manifestasinya sangat elegan, sekaligus menyakitkan, jika pihak yang disasar sensitif. Sebuah fenomena yang mencengangkan. Prita menjadi personifikasi keraguan, kegalauan, kegeraman batin para pendukungnya, atas sebuah  sistem yang dianggap belum becus menimbang hitam – putih.

Kamis malam (2 Desember 2009), saya sempat memwawancarai Prita. Saya bertanya, jika seandainya ada pihak – pihak yang membantu, dan ternyata nilai yang dibutuhkan terkumpul, apakah dia akan menghentikan upayanya mengajukan kasasi atas putusan majelis hakim tinggi? Prita mengatakan dirinya akan tetap maju, demi nama baik dan keyakinannya, bahwa dialah yang menjadi korban. Jadi  kalaupun 204 juta dalam bentuk koin seberat 2,5 ton terkumpul, belum ada jaminan uang itu akan dimanfaatkan Prita, untuk menuntaskan prahara hukum yang membelitnya. Sebab jika kasasi diajukan, maka 2,5 ton koin itu akan teronggok begitu saja.

Lepas dari akan dimanfaatkan atau tidakkah “koin – koin perlawanan” itu, namun aksi yang ada dibaliknya tetap luar biasa. “Mencari keadilan di Indonesia mahal harganya” kutipan yang sesungguhnya tidak mengejutkan, namun karena keluar dari  seorang Prita menjadi sangat berkesan buat saya. Dan koin – koin yang akan dikumpulkan itu, sesungguhnya bentuk kegelisahan kita akan rasa keadilan, bukan hanya dalam ranah hukum, tetapi juga ekonomi, pendidikan dan sendi – sendi kehidupan yang lain. Saya hanya membayangkan, seandainya semangat reaksioner para pendukung Prita tidak bersandar pada faktor momentum saat ini saja, tetapi konsisten dan semangat tersebut terus mengalir dalam nafas kesadaran, maka banyak orang – orang yang sama “termarjinakannya,” “takberuntungnya,” “terabaikannya” dengan Prita akan menemukan kekuatan dalam badai apapun yang mereka alami. Anda pasti sejalan dengan saya, jika saya katakan masih banyak lagi anak – anak bangsa yang mungkin sama atau lebih menderita ketimbang Prita, kan?Yang karena tak mengerti internet, tak dapat menulis email dan tidak memiliki komunitas dalam jejaring sosial dunia cyber tak kita baca, dengar dan tahu penderitaannya. Maka jika saja koin – koin itu adalah koin keadilan, mereka pun berhaknya memperolehnya, sama dengan Prita.

Pancasila, Sila V : “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”

18 Responses to “Koin Prita Dan Keadilan Untuk Semua”

  1. mfshaumi says:

    hmm….. dalem bgt.

    mas vito, tlg sampaikn kpd ‘koordnator aksi’ kalo bu Prita tdk bersedia menerima koin2 tsb, boleh dsumbangkan ke anak2 yatim piatu se-Indonesia.
    bwt naek ‘odong-odong’ sepuasnya. at least akan ada senyum kecil dr mrk.

  2. yudha says:

    utk mfshaumi, substantif dari “pengumpulan koin” tadi bukan mau tidaknya mba prita menerima koin-koin tersebut. Ini merupakan gambaran sindiran utk penegak hukum agar dalam menetapkan vonis tidak berat sebelah. Merupakan suatu hak bagi kita warga negara untuk mendapatkan pelayanan kesehatan dan jaminan dalam bersuara. Seandainya Saudara yang mengalami demikian, tindakan apa yang akan dilakukan?Apakah hanya “nrimo” pasrah?Padahal kasus ini merupakan kasus yang sering dialami oleh warga negara yang nota bene mempunyai hak dalam bersuara dan mendapatkan pelayanan baik pendidikan, kesehatan dll. Semoga kita bisa bersama-sama menegakkan keadilan.trims

  3. Alfito Deannova says:

    Saya rasa tidak ada perdebatan antara mas Yudha dan Mfshaumi. Sama seperti saya, kita tidak setuju perlakuan tidak adil Prita hanyalah gunung es, dan pengumpulan koin adalah langkah awal, sebagai bentuk protes dari perlakuan “lalim” diranah hukum yang menggunung itu. Pesannya sangat jelas : “Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan !”

  4. Idhank says:

    Saya setuju, seharusnya dalam segala hal masyarakat Indonesia bisa lebih bersatu untuk memujudkan Indonesia yang lebih baik.

  5. rima says:

    DAMAI di bumi, DAMAI di hati… KEDAMAIAN bagi seluruh rakyat INDONESIA…TVONE sampaikan selalu salam damai untuk rakyat INDONESIA.
    salam damai

  6. Ozzie says:

    Saya sangat setuju!!! Mengapa,, hanya menympaikan eluhan lewat e-mail malah dipidana??

    semoga smua dapat terselesaikan dngan baik yaah..

    INDONESIA BERSATU!!

  7. eka says:

    ko dikampus keliatan sombong bgt sich….kalo diliat langsung berpaling muka…..

  8. ART says:

    Pak Alfito, maaf kalau agak melenceng dari topik. Saya ingin berkonsultasi menyangkut informasi penting yang mungkin berguna bagi media, dan juga publik tentunya. Ini menyangkut problem kolusi pejabat di beberapa kota/kabupaten/propinsi di Indonesia dalam kegiatan tahunan yang secara tidak sengaja melibatkan saya di dalamnya. Mohon kirim e-mail ke saya bila tertarik, agar versi lengkapnya saya ceritakan melalui e-mail, terima kasih.

  9. aidan says:

    buat alvito..

    saya bisa menangkap kegelisahan hati anda melihat carut marutnya keadilan saat ini. begitu juga dengan saya, dari awal saya mengikuti dan tertarik dengan kasus ini karena keunikannya.
    kenapa??? pasti anda bertanya. karena baru kali ini juga saya menemukan ada kasus di mana RS dan dokter yang menuntut pasien, karena biasanya adalah sebaliknya.

    terus terang saya beberapa kali turut menghadiri sidang karena penasaran, sebab kadang apa yang terungkap di persidangan tidak selalu dapat kita baca atau dengar dari media, karena sejujurnya saya melihat ada beberapa point di persidangan yang ternyata penting tapi tidak di beritakan.

    1. prita menyatakan di emailnya dengan judul cukup menyolok, penipuan oleh RS OMNI……..

    saya coba catat apa saja yg terungkap di persidangan.
    prita masuk ke RS OMNI malam hari dengan kondisi demam tinggi, muntah2, nyeri kepala hebat.
    diperiksa oleh dr ugd dan dianjurkan untuk cek darah rutin. prita bersedia dan diambillah darah.
    kurang lebih 10 menit kemudian hasil darah keluar dan ketika dibaca oleh petugaslab ada hasil trombosit yang rendah.petugas memberitahukan ke dokter ugd. dokter ugd menyampaikan ke ibu prita sekaligus minta izin untuk ambil darah kembali.

    di persidangan sempat alot mempertanyakan si petugas lab, apakah ada kesalahan sehingga hasil bisa di bawah normal.
    petugas menceritakan bahwa pada pasien dengan kondisi demam tinggi bisa terjadi penggumpalan pada darah, ketika di baca mesin hasil trombosit rendah, petugas langsung kroscheck di bawah mikroskop dan ditemukan trombositnya menggumpal sehingga bila mesin membaca 1 trombosit, yang sebenarnya ketika dilihat dibawah mikroskop bisa 10 atau lebih.sehingga dia melaporkan ke dokter ugd hasil trombosit nya perlu di ulang untuk hasil yg valid.

    si dokter ugd meminta persetujuan prita untuk pengambilan darah kembali. ketika minta izin ,prita bertanya alasan kenapa darahnya di ambil lagi..si dokter menjawab,..karena hasil trombosit rendah dan tentunya prita bertanya ..berapa? dan si dokter menjawab 27.000

    sampai disitu saya melihat tidak ada kejanggalan.toh si dokter ingin mendapatkan hasil yang sebenarnya dari hasil pemeriksaan yg dia minta.

    pada persidangan dr ugd menceritakan karena kondisi prita yg lemah (demam tinggi, muntah2 dan lemah cenderung dehidrasi ) dia menyarankan untuk rawat inap, dan prita menyetujuinya.
    jadi si dokter bersaksi bahwa prita di rawat bukan karena hasil trombosit yg rendah tapi karena kondisi prita yg memang membutuhkan rawat inap.di medis pun menurut dia hasil lab itu hanya merupakan pemeriksaan penunjang yang nilainya kurang lebih 10% bagi dokter untuk membuat diagnosa

    well…..masih bisa saya terima.

    ketika prita setuju dirawat, si dokter ugd mengkonsulkan ke dokter spesialis yang datang memeriksa prita tidak lama kemudian.

    di tanya oleh hakim apa diagnosa dokter ketika prita masuk?
    dokter H (dr spesialisnya) bilang….
    diagnosa masuk prita adalah observasi febris (demam) dengan diferensiasi diagnosa 1. DHF, 2. tiphus, 3. infeksi virus…
    saya menanyakan pada teman yg dokter apa maksud nya, dan saya di terangkan…
    maksudnya si dokter mendiagnosa dengan observasi demam dan memikirkan kemungkinan penyebabnya antara lain demam berdarah,tiphus atau infeksi virus…

    oke..I SEE..,

    sampai titik ini saya mempertanyakan…kenapa prita merasa salah diagnosa???

    sidang di lanjutkan..
    dr H menyatakan keesokan harinya ketika memeriksa pasien pagi hari dia membacakan hasil trombosit yang dilakukan ke2 kalinya dan menyatakan demamnya kemungkinan bukan demam berdarah tapi tetap harus waspada dengan demam berdarah karena prita baru demam hari ke 4 dan trombosit dapat saja turun tiba2.

    yang saya pertanyakan….sesuai judul email prita, bila si omni memang ingin menjaring pasien dengan menipu hasil laboratorium sesuai yang di ceritakan prita di emailnya ..mengapa si dokter harus memberitahukan hasil yang benar?
    hehehe…kalau si dokter tidak pernah memberitahukan hasil yang benar pasti kasus ini tidak terjadi.
    dan di persidanganpun petugas lab menyatakan bahwa hasil lab yang valid lah yang selalu di cetak dan diberikan ke pasien serta di tagihkan ke pasien.

    jadi menurut saya, salah satu pernyataan prita yang membuat kita berfikir bahwa ada salah diagnosa itu menyesatkan
    juga pernyataan dia bahwa RS sengaja mencari pasien dengan menipu hasil lab juga tidak beralasan.

    si dr H juga menyatakan di sidang bahwa sesuai perkiraan awal diferensiasi diagnosa dia ada kemungkinan prita infeksi virus dan ini terbukti memang prita menderita infeksi virus mums (rupanya maksudnya gondongan)
    obat2an yang diberikan selama perawatan adalah obat anti muntah, obat turun panas, vitamin, dll yang artinya sesuai dengan keadaan kondisi penyakit prita.
    alasan dia memberikan lewat suntikan karena prita tidak bisa menelan makanan (muntah) sehingga kalau di berikan tablet tidak akan efektif dan menjadikan perawatan tambah lama….

    haduuuuuuuh….!!!!!!!

    saya sebenarnya memikirkan ini aaaammaaaat sangat lama.
    karena saya orang awam, saya mencari kira2 apa motif si dokter merawat prita.
    benar2 sakitkan dia atau hanya di kondisikan untuk di rawat.
    tapi menurut pemikiran saya, bila prita tidak sakit dan hasil lab nya yang normal sdh dia ketahui tentunya dia bisa minta pulang atau setahu saya RS pun memperbolehkan yang namanya pulang atas permintaan pasien sendiri.

    ini baru sekelumit pembedahan saya terhadap kasus prita.
    bila prita memang wajar untuk di rawat dan si dokter sdh melakukan tahap sesuai prosedur, pemberian obat yang rasional…(di tambah lagi si dr menyatakan sudah berkali2 menjelaskan ke prita maupun suaminya sampai2 ke keluarganya karena pada hari ke3 ada yang mengaku pengacara yang menanyakan padanya perihal kondisi prita)
    apakah prita tidak mencemarkan nama baik si dokter dengan menceritakan sesuatu yang menggiring orang awam untuk menjudge si dokter sudah salah diagnosa, salah kasih obat, mempermainkan nyawa manusia…,dll

    ini baru tahap sidang awal yang saya ikuti…
    masih banyak lagi keanehan yang perlu di pertanyakan, spt…
    di persidangan prita mati2an bilang darahnya hanya di ambil 1 kali. hanya hasilnya saja yang di koreksi pihak RS.
    ternyata pihak RS menyodorkan 2 orang saksi yang notabene adalah orang yg berbeda yang mengambil darah prita 1 dan ke 2.
    rupanya pengambilan darah pertama dilakukan oleh petugas shift sore dan pengambilan darah berikutnya petugas shift malam dimana prita memang masuk pada inury time….

    kenapa prita harus ngotot bilang darahnya hanya di ambil 1 kali?
    toh, ketika sidang mereka semua memperlihatkan bukti bahwa ada pemberitahuan sebelumnya pada prita setiap akan di ambil darahnya.

    saking penasarannya, saya iseng bertanya sana sini…..
    saya tanya mendapat beberapa cerita menarik..dimana prita pada hari ke 3 di datangi petugas customer service yang memang bertugas menfollow up keadaan/keluhan pasien.
    kenapa pada saat itu prita tidak mengeluh panjang lebar? sehingga dokter tentunya kan lebih perhatian? itu adalah hal biasa menurut saya. malah katanya mereka sempat memberikan kenang2an pada prita karena ketika prita di rawat omni sedang ulang tahun yg 1.

    kalau kita iseng ngobrol dengan beberapa karyawan omni (tentunya dg merahasiakan kita siapa) mereka kerap membicarakan betapa bedanya prita yang mereka ketahui dengan prita yang sekarang tampak di TV.

    dan yang sedikit mengejutkan, saya dapat cerita dari teman saya yang kenal seseorang yang bekerja di sebuah RS lain di daerah Tangerang..dia menceritakan perlakuan prita terhadap omni tidak mengejutkan karena sebelumnya dia sudah sukses ngerjain sebuah RS bessar juga dan mendapatkan imbalan besar atas (kalau bisa di bilang) pemerasannya.
    saya sulit mempercayai ini….
    sangat sulit!!!!!
    karena apakah ada orang yang berani bersandiwara sedemikian hebatnya seperti itu?

    saya coba tanya..ketika di omni prita di rawat di ruang apa?
    uuuppppssss….VIP rupanya.
    biasanya kalau VIP perhatiannya tentu berbeda dg pasien biasa bukan.

    saya menceritakan ini hanya merupakan kegelisahan hati saya..
    misalnya…..prita memang sdh mendapat perlakuan yg wajar dari RS dan karena dia melihat peluang untuk menekan RS agar mendapatkan sesuatu dari RS (apalagi katanya dia pernah berhasil) di RS lain…
    wajar gak si DR minta nama baiknya di bersihkan????

    apakah kita selama ini sudah membela yang benar????

    sidang selalu sy ikuti beberapa hal sdh sy catat….nanti sy sambung lagi..

  10. imron46 says:

    sepertinya saatnya tv one membuat acara ketimpangan hukum dinegeri ini, dibuat dalam format seperti kaleidoskop sehingga membukakan mata semua orang bahwa HUKUM DINEGERI INI BISA DIBELI..

  11. Pengunjung dari Kaskuser says:

    @aidan

    Wah… apakah benar ini?

    Kalo dikaskus, no real source, or no real evidence tentang apa yang agan sampaikan diatas itu bisa dikatakan HOAX…

    Bilamana benar… waaahhh…. Daku salah satu Kaskuser yang NGOTOT dukung Mbak Prita.

    wah…wah….wah…!!!

    Bro…. mungkin ada bisa post pendapat anda di http://www.kaskus.us supaya lebih afdol. Memang diKaskus beritanya lebih berat membela Mbak Prita. Jadi kalo anda posting komentar anda, Bagus juga tuh

    Pizzzz

  12. Orang says:

    Kasus ini sdh selesai..
    Ada 1 kasus lg yg mngguncang msyrkt: kasus istana d rutan. Satu kebejatan birokrasi t’bongkar. TV1 sbg tv berita plg populer b’prn sgt pnting dlm p’bongkaran kasus. Dlm 2 hr silam, sy mndapat 2 info soal kebejatan birokrasi di dephub n depnakertrans. Dua2nya soal gaji karyawan yg disunat smp 60%, yg satu karyawan kecil transjakarta n yg lain karyawan kecil di dirjen K3. Mohon selidiki kasus2 ini..sy lebih percaya pd TV1 drpd polisi. Kl lwt media, hakimnya adl masyarakat..

  13. jani says:

    bang vito,request doank,,kasus guru honorer di boomingin donk..kan dana yang di kasih pemerintah gede tuh..

  14. Taufik says:

    hmm . . . how are you table mate !!

    about Prita . .. Kupikir memang hati nurani berbicara disini, . .. tapi yang kubayangkan adalah, pembelaan sosial terhadap kezholiman seperti yang di alami bu prita bisa saja telah terjadi di banyak ranah sosial kemasyarakatan. Kasus bu prita merupakan salah satu yang terblow up, thks god !!

    apakah hukum begitu rentannya sehingga harus pakai cara2 ‘prita coin’ like?

    Taufik Hdyt

  15. jun says:

    boleh g sich saya berharap…………sekali az berita yang saya dengar dan saya tonton adalah berita yang keseluruhannya menggembirakan…….. terkadang sedikit menjadi malas untuk menonton berita, tapi saya perlu dan akhirnya saya hanya bisa menggerutu, apalagi lo ge nton sidang pansus century….tambah dech…… tapi boleh tidak anda mengupas tentang seorang SINAR kecil…..terima kasih

  16. doni ginting says:

    kami sbg petani tanaman cabai memohon kpd pemerintah maupun reporter tvONE y bernama Alfito supaya tdk mengusut tentang kenaikan dr bhn pokok tanaman cabai, karena kami pun sering mengalami kerugian dlm mengerjakan pekerjaan trsbt. di saat kmi mengalami kerugian tdk 1 pun pihak tv y mengusut nya. tp disaat kini harga cabai naik kenapa di ganggu gugat? mohon…. beri kami kesempatan utk mendpt keuntungan????!!!!!

  17. Zanu Zawa says:

    Yup setuju, semoga tidak hanya untuk kasus ibu prita aja masyarakat bisa bersatu saling membantu kayak gini :)

Leave a Reply


Google Sitemap Generator