(Un)Reality Show

“Kamu bohong !”
Plak !

Lima jari wanita muda itu,sekaligus telapak – telapaknya  mendarat di pipi wanita muda lainnya. Si marah menindak kawan baiknya dengan fisik, lantaran mengaku pernah tidur dengan pacar si marah (mbok ya kalau setia kawan semuanya harus di-share toh?). Ini sumpah bukan adegan sinetron besutan Om Ram, bukan juga film layar lebar miskin makna, pencerahan dan inspirasi yang seringnya dibintangi Peach Goddess (Dewi Persik maksudnya) yang kini sering mampir di bioskop – bioskop kesayangan anda. Adegan tadi saya saksikan di layar kaca, dalam program yang kini tengah digandrungi kaum ibu, baik yang orisinil maupun yang gadungan. Judulnya bisa apa saja (saya tidak mau menyinggung hati sejawat sesama pembuat program televisi, karena bisa saja dianggap sirik. Karena sumpah..!  rating atau capaian jumlah penontonnya luar biasa sekali) tetapi genre programnya adalah Reality Show.

Reality Show sendiri bukan barang baru di blantika jagad televisi. Tahun 40-an, Allan Funt sudah memulai membuat program tanpa skrip, yang menghadirkan ekspresi full spontan dari orang – orang yang “di-kerjai” Candid Camera namanya. Disini bisa dikatakan realitas yang jujur menjadi satu – satunya inti dari substansi show. Kagetnya jujur, kalo marah ya jujur, (maaf) belo’on juga jujur. Di era 90-an Reality Show kembali membumbung namanya, sebagai sebuah genre tontonan tv yang digandurungi para pirsawan. Semuanya bermula dari ide cemerlang raja Reality Show bernama Mark Burnett. Produser asal Inggris yang mengangkat tayangan  seperti Survivor, The Apprentice, Are You Smarter Then a 5th Grader, Rock Star dan The Contender sebagai barometer program ‘pembaruan’ di televisi yang kala itu sarat dengan series dan sitcom. Ahh…disini Mr. Burnett paham benar, bahwa jualan utama di televisi adalah elemen – elemen drama. Karenanya meski bertajuk reality tv program – program tersebut diatas sudah mendapatkan intervensi pengarahan dari tim produksi. Jadi ada amarah disana, air mata, romance, empati. Yah… pokoknya yang bisa mengaduk – aduk perasaan kita.

Bagaimana dengan Indonesia? Ya tidak ketinggalan. Reality TV jadi barang yang sexy bagi para kreator program untuk mendulang rating. Bedanya,  selain elemen – elemen hiburan diatas, semangat melebih – lebihkan menjadi lebih kental. Yang jelas hampir semua program Reality Show (saya singkat RS) adalah saduran dari apa yang ada di luar sana. Sudah itu, para pelakunya adalah talent yang diseleksi melalui proses audisi untuk program semacam sinetron. Alur dan plotnya pun diatur dengan desain awal yang direncanakan tim produksi. Hampir dapat dipastikan tidak ada yang jujur disana. Semuanya direkayasa. Termasuk si mbak yang menampar kawannya yang meniduri sang kekasih tercinta diatas.

Kontras dengan apa yang menjadi fakta, ditataran publik, program – program diatas masih dianggap sebagai sebuah potret spontan, jujur dan mentah (raw) dari peristiwa – peristiwa kehidupan manusia berdasarkan apa yang terjadi. Ini bisa muncul karena ya semangatnya masih sinetron tapi dikemasnya Reality. Secara tidak langsung ada upaya pembohongan publik disitu. Selanjutnya, pola yang melebih – lebihkan seperti tamparan, makian, jerit tangis histeris, kondisi tak sadarkan diri, yang awalnya dihadirkan untuk memberikan ‘bumbu’ drama, akan ditangkap sebagai sebuah fakta sosiologis oleh penonton. Ini akan membuat secara psikologis masyarakat kita meyakini memang manusia Indonesia selalu berlebih – lebihan. Pastinya tidak akan membuat kita makin cerdas, tapi (maaf) makin dungu. Dengan capaian rating yang tinggi, effort yang dilakukan adalah dengan menyadur (kalau tidak mencontek kanan-kiri) dan melebih – lebihkan. Dan seperti kebanyakan produk industrial, pemerakarsa RS hanya memulai anjak niatnya, semata – mata karena keuntungan finansial, tak lebih baik dari semangat pemerakarsa sinetron yang kualitasnya juga dari itu ke itu, dari jaman Tengku Ryan sampai Dude Herlino. Penonton ? Keluar kandang buaya , masuk kandang singa.

47 Responses to “(Un)Reality Show”

  1. hanina says:

    nanti hbis ke kandang singa hbis ntu ke kandang pa lgi????

  2. toif_hidayat says:

    benar bung vito, hampir RS (tidak semuanya) di televisi kita cenderung mempertontonkan hal yang membodohi masyarakat, kurang mendidik, just hiburan aja, setelah itu so what ??.saya lebih cenderung menganggap program seperti itu “program sampah” sama dengan sinetron2 yang ngak jelas atau acara gosip yang ditayangin dari pagi ampe malem. apa lacur…..makanya tv one ayo donk jadi pionir acara2 yang bermutu, elegant dan independen…

  3. nov says:

    TV one sekarang TV News apa TV INFOTAINMENT ya,,,,

  4. Alfito Deannova says:

    Yang jelas TV Informasi. Ya..informasi yang jujur

  5. yayan puji says:

    .

    Maaf, mengganggu kesibukannya, saya yang ikut wawancara malam kemarin,
    perkenalkan, nama saya Yayan. Saya tertarik untuk berkomentar tentang
    debat, yang membuat saya “terusik’ secara “kreatif”.

    Tanpa mengabaikan karakter “debat” sebagai sebuah varian “reality
    show” dunia pemberitaan, yang menampakkan “apa adanya” potret
    masyarakat kita yang ternyata masih belum bebas dari puritanisme,
    ekstrimisme, stereotip, prejudice, dan sekian kata sifat lainnya, yang
    bisa merupakan “aib” bagi cara berpikir Barat yang konon rasional dan
    berakal sehat; saya tidak hipokrit untuk mengakui bahwa memang itulah
    negara yang kita diami sekarang setelah sekian lama disekap oleh diam
    yang represif–diam pasrah yang membiakkan jamur-jamur pemikiran yang
    rigid terhadap “yang lain”, yang “bhinneka”, bahkan mungkin sekali ada
    tendensi “kedamaian” yang ada selama ini adalah sebab “komando” yang
    membungkam–ternyata, setelah kita tilik satu per satu, ke-lain-an
    tadi bukanlah yang membuat kita “ika”, yang “lain” menjadi sebuah fron
    yang mesti ditaklukkan, dimusuhi, dikucilkan, dan dikebiri seluruh
    eksistensinya sebagai sebuah hal yang salah, murtad, heresy, jahat,
    kacau, dan mesti “dibenarkan”. Berbeda jadi alergi akut yang bisa
    kambuh bila dijilat saja dengan sedikit “salah paham”.
    Dialog, lalu, dimunculkan, sebagai ikhtiar komunikasi untuk meredam
    kesalahpahaman tadi, untuk saling mengerti tentang permasalahan, untuk
    mengerti perbedaan, untuk memahami masing-masing kepala, untuk saling
    “memakai sepatu orang lain”. Namun, sayangnya, dialog sebagai pencerah
    tadi seringkali tak berbunyi, setelah saling mengutarakan uneg-uneg,
    pengertian tak tercapai. Mungkin sekali, watak kita membius kita untuk
    tuli terhadap ocehan pihak lain, atau bila mendengarkan, kita hanya
    ingin mendengarkan apa yang ingin kita dengar dari mereka, karena
    setelah persinggungan pun, kita tetap merasa kitalah yang paling
    benar, unggul, dan suci. Suara-suara yang “lain” tadi, melempas entah
    kemana, tapi, kemungkinan kan laten muncul di masa datang, bila
    konflik memercik. Berbicara menjadi bukan lagi pemecah masalah, bukan
    menjadi cahaya pencerahan, melainkan telah secara ganas menjadi api
    yang menjilat perpecahan.
    Dialog telah menjadi “debat”.
    Sebenarnya, di bagian lain di dunia, debat atau istilah lain yang
    lebih netral untuk menunjukkan percobaan
    komunikasi-pengertian-pemahaman antara yang “lain”, telah mencapai
    “norma”, “nilai”, “tatakrama”, sistem yang imanen dalam kepribadian
    untuk merengkuh persamaan koeksistensi.
    Program televisi Debat, masih berproses untuk menciptakan harmoni
    perbedaan itu. Layak untuk diapresiasi, hal ini sebagai ihktiar untuk
    “mendidik” kita untuk lebih toleran, dan “rasional”. Namun, selama
    proses itu, tensi dan suspens emosional masih dalam beberapa kasus
    yang sensitif, berkobar, dan amat sekali tabu untuk dipertunjukkan di
    muka publik. Publik bisa saja paham, dan menganggap konyol, tapi tidak
    semua publik demikian. Ada juga yang mungkin semakin kokoh dalam
    pembelaan membabibuta, mencengkeram pendiriannya, demikian, Debat
    mengajak mereka untuk menghajar “lawan” mereka yang “lain”. Mungkin
    ini terlalu berlebihan, dan semoga saja keliru. Namun, bagaimanapun,
    “manner” dan tatacara “bercengkerama” yang baik dalam ber’debat’,
    kiranya amat vital untuk menunjang program ini berjasa dalam
    pembangunan moral dan mental bangsa ini. Bukan secara artifisial dan
    terskenario tiap narasumber diatur, tapi, setidaknya, “rules of
    enggagement”nya telah ada, sehingga hal-hal yang subtil melanggar
    susila dan norma tatakesopanan, tidak muncul sebagai borok intelektual
    yang memalukan.
    Mungkin aturan, cara main, dalam berdebat yang santun dan rasional,
    dapat diadopsi dari format debat kompetisi–teritama tentunya bukan
    ‘teknis’nya, melainkan substansi dan flownya.
    Berikut, seperti yang tadi malam saya katakan, “format” debat
    akademis, adalah saduran leaflet ACT (Associaion of Critical
    Thinking), sebuah LSM yang beberapa tahun ini membantu Depdiknas
    menyelenggarakan kompetisi debat berbahasa Inggris di Indonesia (ISDC/
    Indonesian Schools Debating Championship), yang saya modifikasi
    seperlunya:

    “Competiting Debating at A Glance”

    Competitive debating adalah format debat yang digunakan dalam suatu
    kompetisi. Berasal dari Inggris, competitive dabating mensimulasikan
    debat parlemen yang sesungguhnya. Tujuannya untuk mengatur flow debat
    sehingga tiap pihak memliki kesempatan yang sama untuk membuktikan
    kasus mereka, juga untuk menghindari argumentasi yang tak dapat
    dipertanggungjawabkan dilontarkan saat debat.
    Debat bukanlah diskusi. Takkan ada kompromi sebagai hasil debat,
    seperti dalam diskusi.
    Debat melihat dua sisi cerita. Dalam kehidupan sehari-hari, akan ada
    orang memiliki pandangan berbeda. Debating puts a person in the other
    persons’ shoes to know their version of the story. Ini membuat
    individu tidak hanya menerima perbedaan pendapat tapi juga
    menghormatinya.
    Competitive debating adalah simulasi debat parlemen: saat parlemen
    membuat kebijakan atau menggelontorkan paket undang-undang, akan ada
    debat diantara Pemerintah yang memproposisi mosi, dan Oposisi yang
    kontra terhadapnya. Idea ini dimanifestisakikan dalam semua jenis
    competitive debating.
    Bagaimanapun, implementasinya bervariasi dalam format, terdapat
    British Parliamentary format, digunakan dalam World Universities
    Championship. Ada juga Asian Parliamentary format, Austral-Asian
    Parliamentary format, dan format jenis lainnya.
    Dalam turnamen debat internasional SMA, dipakai World Style format,
    yang terdiri dari: chairperson, timekeeper, debaters, dan
    adjudicators. Ada tim positif dan negatif, tiga debaters per tim.
    Substantive speech diberikan masing-masing debater, maksimal delapan
    menit. Interupsi diperbolehkan kecuali pada menit pertama dan
    terakhir. Pada akhir debat, masing-masing tim, dimulai dari negatif,
    memberikan overview debat tanpa argumentasi tambahan, selama empat
    menit. Debat dinilai oleh panel adjudicators dalam jumlah ganjil,
    bukan dari pendapat personal, tapi dari speeches debat, menentukan tim
    yang menang, dan menjelaskan kenapa, pada verbal adjudication.
    Yang dinilai dari debat: matter (40%), berupa isi argumentasi debat;
    manner (40%), cara, gaya, kewajaran dalam konteks nilai sosial
    berlaku, dan pembawaan dalam menyampaikan speech; method (20%), cara
    mendistribusikan dan mengorganisasikan waktu dan isi argumentasi.
    —-
    untuk informasi tentang debat parlemen lebih lanjuyt, silakan
    browsing. Maaf bila saya terdengar, atau lebih tepatnya terbaca, tidak
    mengenakkan, dan tidak tersingkap niatan saya untuk lebih lagi peduli
    pada proses demokratisasi masyarakat kita yang masih tertatih ini.
    Wassalam.

    Yayan Puji R.
    fotografer-reporter mediaCenter STAN

  6. Suhartoyo Abdulchalim says:

    Saya setuju dg sampeyan… malah pernah saya lihat 2 reality show di TV berbeda ada pemain yang sama tp memerankan tokoh yang berbeda….Jelas ini pembohongan publik…saya sendiri kalo melihat adegan-adegannya sering terasa janggal….masa di khalayak umum kok ciuman…gandengan..dll…padahal lagi di buntuti sama “intel”, sama ibu tirinya jg gandengan,pelukan ciuman di tempat umum….. semua adegan itu jelas “make me sick”. Gak habis pikir bisa segitunya stasiun televisi memakai kedok acara reality show. Mending reality show Animal aja mas, gak bisa direkayasa… malah dengar-dengar ada “pemasaran” untuk siapa yang mau masuk “reality show” harus bayar. Usahakan di TVOne jgn smpi ada rekayasa (kalau pengaturan itu lain dari rekayasa)

  7. HoLLower says:

    setubuh bang….Reality show kayak gitu bikin anak2 speti Qt jadi lemot en gag kreatip.Paling juga alur reality show kayak gitu mudah ditebak.Kapan yah reality show kayak gt bikin alur semacam DA VINCI CODE,PLATOON,SAVING PRIVATE RYAN,de el el…..anak umur se saya ajah males nonton gituan.Mending nonton 1001 dunia,BANG ONE ato Kabar sepekan wkekekekeke99x.Ada nilai plus nya.Plus liad mas FITO yang ganteng dan saya idolain selama ini.heheheh9x.Sebenere c semua anchor TV one jadi idola sya.DOakan sajo..ambo bisa jadi seperti mbak-mbak dan mas-mas di acara TV one.Amiennnn

  8. nissinero says:

    seandainya seluruh rakyat Indonesia berpikiran sama seperti Bung Fito dan saya, bahwa program RS semacam itu merupakan pembodohan publik,mungkin TV swasta ga’ akan laku. Tapi yahh……bginilah kenyataannya, bahwa tayangan yang menguras air mata,yang mengaduk-aduk perasaan itulah yang terbanyak ditonton orang. Saya juga heran, ada juga kalangan terpelajar yang begitu “nyandu” nonton sinetron,dan juga RS yang terlalu didramatisir. Apakah mereka tidak sadar ya? Saya hanya bisa berharap,para kreator akan lebih banyak meng”create” acara2 semacam Are You Smarter Than 5th Grader,ato Masa Kalah Sama Anak-anak,ato Who Wants To Be A Millionaire. Yahh…………pokoknya acara2 yang mengasah otak gitu lah

  9. rima says:

    pengumuman buat seluruh rakyat indonesia ……..!!!
    jangan pernah mau ngeliat acara reality show di tv, itu semua bohoooooong,,, masa kita mau di bohongi, kapan kita mau maju, betul ngga om vito dean ….

  10. lisa says:

    emang klo dipikir Indonesia itu dah ga ada bagus2nya………sx-x ke negara lain tiru pemikiran kita, tapi sayangnya selalu Indonesia yang meniru2 mereka. Mas titip salam u/Andrie jarot ya………boleh ga saya minta blog dia????? di tunggu ya………….thx

  11. yasser says:

    gile..aib diperjualbelikan..memang sudah dajal TV kita..TV ONE jangan coba2 ikut-ikutan ya..kalo ngak mau gw delete channelnya

  12. fain says:

    RS acara yang membunuh karakter bangsa, meskipun rekayasa tapi dampaknya bisa nyata merugikan pemirsa, mungkin yang tidak paham apalagi anak dibawah umur bisa menganggap maki-memaki dan tampar menampar didepan umum itu sekarang bisa, boleh dan keren..amit-amit ,saya miris banget melihatnya hanya demi rating rela membodohi bangsa sendiri….apa media elektronik tidak punya institusi yang mampu mengkontrol out put media. hapuskan saja RS yang tampar menampar itu.thanx

  13. iin says:

    Iya mas Vito, saya sebagai ibu rumah tangga juga khawatir akan tontonan yang semakin tidak mendidik yang justru itu ditayangkan di hampir semua program TV di Indonesia.
    Bahkan, ketika hal itu saya konfirmasi ke tetangga saya (yang kebetulan juga bekerja di TV Swasta), seakan-akan program-program seperti dianggap wajar untuk meraih rating tinggi (yg ujung2nya..duit masuk), dan tidak ada tanggung jawab bagi mereka untuk memperbaiki moral masyarakat bangsa kita (pdhal kalo mau jujur, tetangga saya itu juga melarang anak2nya nonton acara-acara gituan).

    Harapan saya..TV ONE tetap punya idealisme untuk mendidik masyarakat kita (jangan hanya memikirkan rating tinggi dan duit semata)..sehingga program-program yang digarap lebih kreatif, mendidik, dan disukai masyarakat Indonesia.

    Saran saya: Masih ada infotainment di TV ONE..yang digarap sama persis sama infotainment lain. Bagaimana kalo infotainment di TV ONE digarap lebih mendidik, sehingga yang kita dapat bukan hanya ghibah (ngomongin kejeleken artis aja)..tp justru ada sisi2 kehidupan dari si artis yang bisa kita ambil hikmahnya..sehingga bisa jadi pelajaran.

    Tetap Semangat Berjuang!

  14. Galuh says:

    Terlepas dari nyata atau tidak dari acara RS itu sendiri, menurut saya kembali kepada si penonton. Acara di TV mempunyai tujuan yang bisa dikategorikan sebagai media informasi, hiburan, edukasi, religy, reklame, kampanye dll. Dalam hal ini RS jelas mempunyai tujuan untuk menghibur si penontonya. RS terbukti mempunyai rating yang sangat tinggi, hal ini sebagai indikasi bahwa acara tersebut telah berhasil menghibur dan membuat penasaran dan ketagihan si penonton untuk menontonnya. Berarti secara media hiburan acara RS telah berhasil dan penonton merasa terhibur. Acara ini jga bisa membuat alat refreshing ditengah-tengah kesibukan rutinitas si penonton. Jadi kembali kepada si penonton, sekarang penonton Indonesia sudah semakin pintar dalam memilah dan mengambil makna dari sebuah acara. Mana acara yang cocok untuk ditonton dirinya sesuai dengan situasi hatinya pada saat itu. sebagai contoh apabila seseorang sedang sedih otomatis dia akan menonton acara yang bisa menghilangkan kesedihannya misal dengan acara yang bisa menghibur, ketika seseorang sedang haus informasi, otomatis dia akan memilih news program untuk ditonton, ketika seorang Ibu membutuhkan ide lain tentang menu masaknya pasti dia akan betah duduk di depan tv menonton acara kuliner atau demo masak. Jadi biarkanlah keanekaragaman acara menjadi option bagi penonton untuk memilihnya dan penonton bisa mengambil maknanya atau pendidikan yang terkandung di dalamnya. Saya tidak terlalu suka menonton acara RS, tapi ada suatu RS yang sudah beberapa kali saya tonton di sebuah TV swasta yaitu REALIGI, menurut saya terlepas dari nyata atau bohongnya kesungguhan acara tersebut, tapi bisa dikemas dengan baik dan banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari acara tersebut yang dimana biasanya di ending acara pasti membuat sadar dari si pelaku yang dianggap antagonis dalam cerita tersebut.

    Jadi kita kembalikan kepada si Penonton, biar menilai dan memilih apakah acara RS layak ditonton bagi dirinya atau tidak. Karena benar-benar nyata atau tidak acara tersebut tidak terlalu merugikan penonton sepanjang tidak mengandung unsur-unsur pendidikan negatif seperti kekerasan, pornografi, ataupun mengandung SARA. Kalau hanya untuk sekedar hiburan it’s oke. Karena banyak juga yang betul-betul reality seperti news, yang banyak menampilkan kekerasan di dalamnya dan tidak disensor. Hal ini lebih berbahaya dari pada RS khususnya lagi untuk anak-anak.

    Namun yang saya sayangkan paling jam tayangnya saja, hal ini untuk menghindari anak di bawah umur menonton, karena perlu digaris bawahi juga bahwa kecenderungan orang tua kita malas untuk membimbing anak-anaknya dalam menonton, malah si anak dibiarkan menonton sendiri dan difasilitasi dengan pesawat televisi tersendiri khusus untuk anak dikamarnya sendiri.

    Jadi biarlah keaneka ragaman acara menjadi option bagi si penonton dalam menentukan acara yang akan ditontonnya dan bisa saling melengkapi. Karena apabila acara tv hanya news atau edukasi saja pasti akan monoton dan membuat bosan si penonton. Karena ingat penonton adalah masyarakat yang majemuk yang terdiri dari jutaan kepala dengan pemikiran dan kemauan yang berbeda.

    Sorry Bung Alfito it’s just IMHO.
    Semoga bisa sharing diwaktu yang akan datang
    dan mohon tanggapan balik.

    Trim’s

  15. reni amalia says:

    Setuju,mas Vito, namun itulah budaya yang ada dimasyarakat kita memang mungkin senang dibohongi karena program acara RS yang sangat menyentuh perasaan lebih mengena dihati masyarakat kita,buat pihak stasiun TV masalah komersil yang lebih diutamakan……Indonesia maybe menduduki rangking pertama sebagai Plagiator terhebat…….
    I hope TV One beda….majuterus TV-One………smg kamu bisa menjadi yang terbaik….

  16. Kang Dani says:

    bener2 annoying banget liat stasiun TV ramai2 menayangkan acara yang katanya Reality Show. Why annoying? betapa tidak? orang bukan kejadian sebenarnya (benar-benar terjadi saat itu juga dan tanpa rekasaya sama sekali) la kok ngomongnya REALITY, reality dari depook? (untuk mengganti kata hongkong diganti depok). Heuheuheu

    hal-hal yang sifatnya hiperbol serba kebetulan, masalah muncul secara tak terduga berturut-turut, angle kamera dan lighting yang terlalu perfect utk sebuah pengambilan gambar langsung (coba bandingkan dengan liputan berita yg disiarkan secara live) Oow.. come on, give me a brake!

  17. Ttg Reality Show yg berkembang skrg, dr ulasan diatas, sy stujuuu…
    Makanya TvOne jgn ikut-ikutan bang..
    Dan di infotainment nya juga saya rasa KLARIFIKASI sdh cukup tdk perlu pake EXPOSE lg…krn nanti akhirnya jadi sama dgn yg lainnya.
    Kalo mau real tv news n sport..ya kaya Metro lah gitu..
    OK thx bang..

  18. reynold nainggolan says:

    sebenernya kita punya cukup talent dan ide ide pure indonesia tanpa harus mensadur dari luar, tapi masalahnya stasiun tv swasta republik ini masih kurang pintar mengeksplor bakat bakat itu, masih sulit meninggalkan tradisi pake ling ke ling, sebaiknya harus ada mekanisme khusus untuk ‘hunting’ ide ide yang selama ini hanya di dominasi kreator kreator ‘langganan’ spt tantowi yahya dll, yang orientasinya emang barat banget…akhirnya yang muncul liat deh … cuma paket acara yang mengeksplorasi kekejian dan kemiskinan negeri ini terus !!!!! so ??????? jadi pepesan kosong kan ?

  19. gilang kencana says:

    iya skalee tu program cm bkn masyarakat jd tambah bodoh.apalagi program2 itu di tayangkan sore hari dan bs di tonnon oleh anak2.katanya…. pendidikan tapi koq tayangannya sama sekali tak mendidik.iya si memberi pendidikan;mendidik marah2,rebutan cowok,menjual aib,and so on.

  20. Ackie Udin says:

    saya merasa khawatir dengan perkembangan watak anak-anak kita, tapi pemerintah sepertinya tidak peduli

  21. coqy says:

    Sangat menarik ulasan Bung Vito, tapi memang kembali pada mental untuk berubah menjadi manusia yang benar bukan baik, kan baik blm tentu benar ;-)

  22. lina says:

    iya,,RS tuh termasuk tayangan yg tdk mendidik,,
    kok ky nya skrg org bgtu tergiur dgn popularitas shga rela mengumbar “privacy” dan aib sdri maupun kelrg ???

    saya ada tmn yg d sewa salah satu tayangan RS,,
    ktnya reality show,,kok pke script???

    lbh parah nya lagi,,kok bnyk yg suka ya??
    mgkn krna hdp terasa brat buat sebagian org jd “melarikan dr” dr khdpn nyata dgn ntn acar mcm bgtu,,,

  23. Meigie says:

    HahahA… WaduH2… kasian para pemirsa setia RS tuh pada bilang “PenonTon KeceWa!!!!!” ternyata mereka pada dibo’ongin abis2an kenapa gak skalian ajah dibuat “rekayasa ulang” aman toh…
    udahlah… hidup udah susah, berita2 pada buruk, masa’ acara yang tujuannya menghibur juga pada nambah bikin pusing… mending nonton comedy ajah ^_^ ama acara2 yang bisa nambah motivasi untuk lebih maju, trus banyakin dong acara2 tausyiah keagamaannya… biar hidup jadi lebih aman,nyaman, tentram dan sentosa ^_^

  24. lexi says:

    wah..wah….

    untung gw gak doyan nonton RS…

  25. zathy says:

    Iya Mas Fito..

    Sangat memprihatinkan acara2 hiburan perTVan Indonesia.

    Semoga manusia perTVan di Indonesia punya ide yang lebih cemerlang untuk membuat rakyat Indonesia bertambah CERDAS.

  26. tasya says:

    Aku kagum sama om fito.
    Kapan” om dateng dong ke sma 1.
    Hehe.

  27. gregorius subanti says:

    Hukum SUPPLY and DEMAND jg berlaku di TV. Salahkan TV yg menayangkan RS, salahkan PENONTON TV yg mau nonton, salahkan PRODUCTION HOUSE, salahkan KPI yg membiarkan proses pembodohan berlangsung…
    Kok dalam debat CAPRES tidak disinggung masalah pertelevisian kita yang amburadul ya? Tidak ada usaha untuk menuju ke track yg lebih baik. Kita mencela TAYANGAN ASING, BUDAYA ASING sedangkan apa yang kita suguhkan juga tidak lebih baik.
    Saya lebih suka nonton DIALOG, DEBAT, NEWS… TVONE salah satu TV baru yang saya suka.

  28. bostar says:

    Tvone kapan buat acara reality show …..???

  29. wijayanti says:

    sebagai anak muda yang ingin bangsanya maju, sangat khawatir dengan maraknya program RS yang bermunculan,,,,, teman2 saya pun banyak membincangkan kisah2 disana yang jelas2 mereka tau itu adalah settingan,, tapi masih aj mereka menikmatinya………… hohohohohoooooooooooooooo sebenarnya perlu kesadaran dan kontrol pemerintah…………………

  30. Affan says:

    Salam sukses untuk TV-One!!!!

  31. erik says:

    Inilah yang disebut proses pembodohan massal. Saya tidak tahu apa maksud ataupun visi dan misi yang diemban oleh stasiun televisi yang meng-create program-program seperti ini.

    Ketika aib (kekerasan, cinta, kesedihan dll.) diumbar dalam tayangan-tayangan yang disebut reality show, maka sesungguhnya racun tengah disebarkan kepada pemirsa. Ibu rumah tangga yang paling banyak meng-konsumsi acara-acara seperti ini akan membawa pengalaman tersebut dalam kehidupan nyata yang dijalaninya. Bahkan lebih parah lagi apabila mereka mengadopsi reality akal-akalan itu sebagai realitas sesungguhnya.

    Adakah nurani dan tanggung jawab moral masih tersisa dari para produser dan penanggungjawab program dari stasiun tv tersebut? Apakah kemudian rating dan perolehan iklan menjadi segala-galanya dan berubah menjadi “tuhan”?

    Kalaulah alasan filter dan kedewasaan pemirsa yang kemudian dijadikan tameng untuk melindungi kelangsungan program-program memuakkan ini, maka saya ingin mengatakan bahwa; filter dan kedewasaan pemirsa tak akan sanggup membendung tayangan murahan anda yang membabi buta disetiap ruang keluarga dari jutaan keluarga yang ada di republik ini. Ketika bangsa ini semakin bodoh dan kerdil menyikapi jalan hidupnya, disitulah sebagian besar peran anda wahai para produser dan penanggungjawab program reality show, tengah menggerogoti saudara-saudara anda sendiri. Ketika bencana moral melanda negeri ini, maka anda pun memiliki tanggung jawab dibaliknya.

    Semoga anda; para produser dan penanggungjawab reality show masih memiliki sedikit sisa nurani dalam diri anda. Semoga.

  32. nila nila nila says:

    wahwah…bener bgt tulisannya bung vito….reality show meracuni pikiran yg nonton….isix marah marah melulu (tampar2an, makian, dll)…Terus,aib orang di publish gtu…Normalnya kan malu kalo sampe’ mslh pribadi n kluarga d sebarin ke org bnyk …Blum lagi bajunya, mesti seksi…. (ce/ nya seringnya pake hot pants n tank top)…Weleh….dulu tuh pk tank top or hot pants kluar rmh ms malu lo, tp sekarang ky’x kok jd sesuatu yg udh biasa yah…..Walaupun g cm rs loh yg ky gitu (sinetron, infotainment, n pilem), tp rs jg trmasuk ‘penyumbang medali emas’ merosotnya nilai2 di masyarakat, khususnya anak muda.

    Oiya,satu lagi…gak cuma rs loh yg jelek,banyak game show n acara komedi di tv yg jg aneh (menampilkan kekerasan, melecehkan org lain, mentertawakan kesialan n kekurangan org lain)….Masak, ada acara yg kataX 7anX bwt mendekatkan antara ibuk n anak, kok jadinya si anak malah ‘Ngelamak’ toh (acaranya tiap sabtu n mgu malem, skitar j 7 an kali ya)… AnakX ketawa-tawa pas ibuknya dikerjain, malah anakX ikut ngerjain…Blum lagi pembawa acaranya, ikut2an ‘ngelamak’ sama ibuknya si peserta….Eh,giliran dia dikerjain sendiri, ngamuk n ngambek…Apa kalo dket sm ibuk, itu berarti kita bisa semaunya sendiri gitu….sedeket2nya anak ke ibuk kan, masih harus punya sopan santun…. Deket gak boleh bikin seorang anak ‘ngelamak’ loh….

    huh……gemes jadinya,kasian yg nonton, dibodohin mulu…(nb: ngelamak=kurang ajar, g sopan…lupa aku, kan g smua yg baca ngerti bhs jawa)

  33. indah yuliana says:

    *KOCAK!!!

  34. PT. Urip Rekoso says:

    RS itu bisa untuk mengeahui diri sejati orang tersebut….Gimana?????

  35. mareen says:

    tari pendet di klaim?Masya Alloh…

  36. kang_adi says:

    semoga kmentar2 anda-anda semua, jadi “kutukan” bagi orang-orang perusak mental bangsa lewat RS. Aaaminnn …!

  37. Kalo hanya untuk sekedar hiburan sih ga pa2, tapi jangan sampai jadi pembodohan buat pemirsa.

    BUAT TEMEN-TEMEN YANG MAU SILATURAHMI, MAMPIR YA
    PENULIS

  38. Pido Nesta says:

    (un) RS … membuat masyarakat Indonesia yang “lebay” menjadi semakin “lebay”.
    tapi hal ini tidak bisa kita nafikkan, coba saja liat ratingnya yang terusnaek artinya masyarakat kita memang lebih suka hidup (un) reality …

  39. tirza kwan says:

    Halo Pak Vito,

    Benar sekali, tayangan hiburan di TV Indonesia harus diubah. Terus terang, kalo nonton TV paling cuma TVOne ama Metro. Kalo hiburan paling cari drama Korea, Moto GP ama F1 ha..ha..
    Harusnya ada tayangan kaya Discovery Channel di TVOne..ditunggu yah..

    Makasih, salam kenal.

  40. helmi says:

    Reality show???Is it real?Pembohongan Publik…

    Pada awalny saya cukup mengikuti program2 hiburan yg kurang atau lebih cukup menghibur dan bisa dijadikan literatur dalam hidup.Plak,tangis,makian,tak sadarkan diri,hingga kelakuan2 dari penokohan para pemain di dalamnya yg sudah barang tentu tidak layak untuk dikonsumsi bagi anak2 di bawah umur!?Ada beberapa bagian dari hampir semua acara RS(Maaf bung fito,saya ambil cara anda menyingkat),yg saya perhatikan monoton dan selalu seperti itu (di saat selingkuhan dgn selingkuhan bertemu) dan ada lagi kisah dimana 2 program RS yg berbeda ada pemeran yg sama.Mulai hari itulah bahwasanya saya makin mulai memahami,oh s@@t…Saya,atau sekian banyak org telah tertipu!
    Dengan embel-embel di akhir cerita ;…Tayangan ini telah disetujui oleh pihak-pihak yg terkait.Kontradiktif bukan???

  41. helmi says:

    Dan sekarang ,gimana solusinya?

  42. randy says:

    dukungan total buat prita via fasbuk
    ini alamatnya
    (dukungprita@yahoo.com)

  43. Jay- says:

    Salam u pengamat tayangan RS ,,
    ” u semua yg bertolak belakang dgn tayangan RS,Menurut kaca mata anda ,”
    *Tayangan RS harusnya SPRTI APA yg bisa mendidik masyarakat?
    *Bgmn menurut anda tayangan RS yang menyangkut tentang Agama ,Apakah di kategorikan sbg tayangan yang tidak mendidik juga?
    DAn untuk Tv, apakah mau menayangkan acara Reality tanpa iklan krn ada beberapa televisi swasta skrg berbondong2 mencari iklan bukan berbondong2 emperbaiki moral rakyat?

  44. dayie says:

    mending nonton tv one, harusnya ga sah ada acara gosip/infotainment segala d tv one, acara lain masih banyak yang bisa jadi tuntunan, ga cuma tontonan…………..suxes tv one

  45. Donald Duck says:

    Pak tolong bilangin ama rekan Bapak Indy Rahmawaty, jangan keseringan ‘ber-dehem’, kalau mewawancarai atau berbicara dengan nara sumber, suara ‘hmm-hmm’, “hah-haaahh”, “huuuh-huuhhh”, bahkan “hoh hoooh” sangat mengganggu sekali, dan kalau ketawa kenapa gak bisa lepas ya.., nadanya panjang lagi… (maaf!), kayak pengisi suara dalam film horor, dan beritahu pula (ini kritik membangun lho), ke Indiarto dan Grace Natalie, jangan ikut2an berdehem.., heh-hehh.., hmmm hmmm, napa gak sekalian bilang yummy aja

  46. yuyun says:

    stop tayangan-tayangan pembodohan…kapan manusia indonesia bisa maju kalau tontonan mereka justru membuat mereka makin terbelakang….

  47. dendie says:

    kapan acara tentang kehidupan binatang ada lagi di tv one…???
    waktu namanya masih lativi perasaan banyak banget…
    kayak killer instinc geto…

Leave a Reply


Google Sitemap Generator