Mahalnya Sebuah Pilihan

July 28th, 2010 by Alfito Deannova

Hidup adalah pilihan ! Kata-kata ini bosan rasanya kita dengar sepanjang hidup. Nyata sekali maknanya kerap terdengar klise. Apalagi kalau kondisi lagi mentok sana – sini. Contoh yang paling gampang saja, soal karir. Bahwa sering kali diantara kita merasa bahwa profesi yang dijalani tidak pernah disukai, tetapi demi  mempertahankan eksistensi diatas dunia, agar tetap bisa bernafas, ya…., kita telanlah bulat – bulat semua  ganjalan yang dirasa.  Itu yang besar, yang kecil -kecil juga kita alami setiap hari tanpa ampun. Pilih naik tol atau arteri, pilih jalur kiri, tangah atau kanan, pilih merk HP, pilih provider tv berbayar, sampai yang remeh-temeh, memadupadankan busana. Tapi itulah hidup, kata orang bijak. Hidup adalah memilih. Proses memilih akan berhenti ketika badan berpisah dengan jiwa. Ini artinya pengambilan keputusan – keputusan sepanjang hayat atau pilihan, sesungguhnya adalah keterpaksaan.

Karena pilihan akan selalu ada, maka langkah selanjutnya dalam menyikapi hal tersebut adalah bagaimana kemudian manusia menjadi arif dalam menentukan opsi. Ahh, disini jebakan Batman menghadang. Bagaiamana menjatuhkan pilihan dengan tepat? Bagaimana memastikan pilihan yang diambil memiliki tingkat kerugian yang paling minimal? Bagaimana pilihan (hampir) pasti memberikan nilai tambah ketimbang lebih sarat unsur mudaratnya. Hehehe…dasar manusia ya, ogah rugi. Padahal dalam ilmu ekonomi sudah dijelaskan, kalau mau untung besar, harus siap terima resiko yang besar juga (risk/return trade off). Diagram dibawah pasti bisa menjelaskannya dengan lebih logis.

Jadi intinya, memilih berarti harus juga siap dengan segala konsekuensinya, sebab kalau berani untung, juga harus berani rugi. so there’s no such tihing as always win. Mungkin kalau ada hoky, lantas kita mencari pembenaran dari upaya kita untuk terus tepat dalam memilih. Yah… yang namanya  “Luck” atau “Peruntung” seharusnya jangan dijadikan opsi buat kita – kita ini yang mengaku rasional. Iya kan?

Nah, penjelasan awal ini, hendak saya jadikan bantalan untuk bicara tentang runyamnya dunia pilihan itu, dan bagaimana beragamnya sikap manusia dalam menentukan pilihan. Pernah kenal nama Jessica Steinhauser? Ahhh..kalau saya sebut Asia Carrera, mungkin ada beberapa diantara anda yang kenal. Dia adalah seorang pornstar yang melejit – lejit karirnya di era 90-an. Asia bukan perempuan bodoh yang hanya mengadalkan kemolekan tubuh yang menggoda syahwat lelaki untuk kemudian mendapatkan uang melimpah. Perempuan ini ber IQ 156, relatif tinggi untuk ukuran manusia. Ia tercatat sebagai anggota Mensa, organisasi yang beranggotakan mereka – mereka ber-IQ menjulang, setidaknya 2% peringkat teratas dalam ujian kepandaian yang telah disetujui. Asia anak yang pandai, tapi karena pilihan (walau dikatakannya pilihan untuk menjadi bintang porno, setelah sebelumnya menjadi PSK dan penari bugil karena tidak tahan dengan tekanan orang tua) ia tidak dikenal sebagai seorang pundit, tetapi sebagai penglipur nafsu manusia.Tetapi kemudian ketika ia tidak memilih karir sebagai bintang porno, dia tidak menjadi Asia Carerra, yang dikenal, tersohor seantero jagat. Dia hanya akan menjadi Ms. Steinhauser, Dosen Calculus disebuah universitas entah dimana misalnya.

Pilihan akan membawa kita menjadi diri kita sekarang ini. Iya, kadang – kadang kita mengatakan, ” saya yang

sekarang menjadi, karena tidak ada pilihan!”. Wah, kalau saya lebih percaya itu sesungguhnya adalah dalih dari manusia  yang justru sebenarnya tidak berani mengambil keputusan. Terlalu khawatir dengan resiko – resiko yang akan dialami (kalau tidak mau dikatakan pengecut), yang belum tentu juga akan nyata. Mengatakan “tidak ada pilihan !” sesungguhnya menjadikan seseorang permisif terhadap keengganan diri untuk mau bergulat lebih keras dan menentang hidup, lalu mengatakan “inilah takdir!”

Bayangkan, jika seorang Soekarno tetap pada profesinya sebagai arsitek, dan mengatakan tidak mungkin berpolitik menentang kolonial, karena akan membentur tembok, masuk penjara, diasingkan dan seterusnya, kita tak akan mengenalnya sebagai presiden pertama Indonesia. Jika Ernesto Guevvara, tidak menjatuhkan pilihan hidupnya sebagai seorang revolusioner sejati, dan tetap menjadi dokter sesuai dengan disiplin ilmu yang digelutinya di kampus, maka kita tidak pernah mengenal sosok kharismatik bernama “Che”. Padahal dia bisa berkata, “aku orang Argentina, tidak ada hubungannya dengan Kuba, Bolivia, bahkan Congo. Aku bukan kadet yang diajarkan menjadi tentara yang siap berperang.” Akan masih banyak lagi jika kita mau mengurai satu persatu contoh yang menunjukkan bahwa pilihan akan selalu ada, tergantung kemudian berpulang ke diri saya kembali, apakah bersedia mengambil kesempatan atau tidak. Sekali lagi pilihan tidak pernah bisa dihindari, ia bukan  bukan opsi, tapi keharusan sebagai konsekuensi hidup manusia.

Sukses !

July 15th, 2010 by Alfito Deannova

success

Apa ukuran sukses sebenarnya? Apakah bergelimangnya harta dalam genggaman? Bombastisnya angka saldo rekening?  Sesaknya  daftar portofolio kepemilikan saham? Akumulasi jumlah properti yang fantastis? Apakah materi  yang jadi tolok ukur keberhasilan?

Atau sukses adalah ketika tiba pada puncak kejayaan dengan status yang menggentarkan manusia lain? Menggengam tampuk kekuasaan dengan status sebagai tokoh yang agung? Ketika semua orang yang bertemu menunduk hormat dan takzim mendengarkan, lalu mengamini setiap kata yang meluncur dari rongga mulutku? Sehingga ucapanku menjadi sihir buat mereka, menjadi perintah yang tak terbantahkan, menjadi sabda yang tak tertampik pengabulannya?

Mungkin juga sukses adalah ketika saya menjadi begitu populer. Punya penggemar berjibun. Banyak tak terbilang insan memuja, ingin bertemu dan mimpi bertukar sapa. Hahaha…bahkan menjadikan saya dewa pada altar suci didalam kuil tersembunyi didalam lubuk hati mereka.

Atau sukses itu, semua yang bersifat spiritual? Situasi dimana hati menjadi tenang dalam menjalankan hidup, karena yakin Yang Maha telah memberkahi saya dan saya ikhlas terhadap apa yang dikaruniakanNya?

Apa sih sukses itu?

Buat saya, sukses sesunguhnya adalah pertanda bahwa hidup manusia menjadi makin berarti. Manfaat mengurapi semestanya dan sejahtera menjadi kata yang tidak berjarak. Pertanyaannya kemudian, apakah sukses itu, status yang kasat mata atau semata berdimensi batiniah? Apakah sukses itu bersifat subyektif atau atas keabsahannya dibutuhkan syarat pengakuan khalayak. Apakah sukses menitikberatkan pada kondisi akhir atau pada proses?

Apa sih ukuran sukses itu?

Walau selalu kita menyangkal bahwa sukses tidak terukur lewat satuan – satuan materi, namun seringnya kita menganggap rangkaian ide tersebut klise. Hanya layak dikhotbahkan oleh begawan suci yang benar – benar mandul hasrat. Faktanya, ya indikator konvensional kesuksesan adalah harta, tahta dan pamor. Kalau tidak apa? Apa klaim yang paling faktual untuk menyatakan saya sukses selain apa yang dapat diindera? Kepuasan batin? “Ah…pembelan diri orang – orang yang tak mampu!” itu mungkin yang jadi ungkapan standar. Tetapi buat mereka yang sudah pada tataran esensi dan substansi, sukses adalah masalah batin. Bahwa sukses adalah apa yang saya rasakan, bukan apa yang saya kangkangi. Lalu bagaimana dengan standar umum? Kata orang – orang bijak ini, yang merasakan sukses itu saya, dan karenanya pendapat sayalah yang terpenting, bukan orang lain. Dengan begitu, sukses bukan soal kompetisi, tetapi substansi.

Sampai dimana rasa menentukan batas, seharusnya cerita soal sukses menjadi sangat – sangat individual, bukan komunal. Ah.. mana bisa maju jika ukurannya diri sendiri. Bagaimana jika kita termasuk orang yang cepat puas? Boleh jadi. Tetapi rasanya optimis lebih baik ketimbang langsung tersuruk menjadi pesimis. Mungkin kunci jawabannya adalah strong self motivated Disni yang ditekankan bukan bagaimana bersaing dengan orang lain, tetapi bersaing dengan diri sendiri terlebih dahulu. Tuntaskan pada tataran internal, ketimbang selalu melihat kekanan dan kekiri. Misalnya orang yang mengikuti lomba lari. Ia akan terus berusaha mengejar posisi terdepan, karena itu menjadi batas keberhasilan. Jika sudah didepan masalah selanjutnya adalah bagaimana mempertahankan posisi itu terus-menerus. Bayangkan kalau para pelari lain memiliki kecepatan 30 km/jam, maka targetnya adalah memastikan dia bisa berlari diatas kecepatan itu. Dengan mempertahankan kecepatan 40 km/jam saja maka masalah terselesaikan. Dengan mengandalkan kompetisi eksternal, barangkali di pelari bermental juara itu tak pernah mau mencoba kecepatan 65 km/jam. Mengapa? Karena ukurannya lingkungan. Buat apa berpayah – payah, lah wong lari 40 saja sudah juara kok?!

Tetapi bayangkan jika si pelari beraing dengan dirinya sendiri. Memulai larinya dengan 25 km/jam, lalu karena sudah terbiasa maka meningkatkan kecepatannya menjadi 30 km/jam, terus dan terus dan terus. Maka batas menjadi tidak ada. Lagi-lagi itu kalau perangkat lunak sikap mental pantang menyerah dan motivasi dirinya begitu kuat. Selain menyelamatkan diri dari kehabisan energi karena penyakit hati (iri, dengki, syirik dan sejenisnya), dunia seolah tak berbatas.

Sekarang, pertanyaan selanjutnya: Apakah sukses bertitikberat kepada destinasi atau pada proses. Pertanyaan ini menjadi penting, sebab sejak kecil kita selalu diajarkan untuk memilih tujuan yang sifatnya final. Mau jadi apa? Dokter, Pilot, Polisi, Pelukis, Pemusik, Bankir atau Tentara? Dalam membangun kereangka pandang tentang sukses, tanpa kita sadari, lingkungan mendidik kita untuk berpikir instan, dan ‘memaksa’ kita menyasar satu target akhir sebagai indikator kesuksesan. Bahwa sukses adalah ketika saya menjadi anu, ini atau itu. Kita tidak pernah didik untuk berpikir sistematis, strategis dan komprehensif atas status sukses kita. Sehingga pada akhirnya, tak banyak dari kita yang bisa memenuhi cita – cita masa kecil. Karena apa? Kita tidak berorientasi kepada proses, tetapi  kepada tujuan akhir. Bagaimana mungkin saya bisa termotivasi mencapai satu tujuan, jika  saya tidak tahu harus memulai darimana, dengan cara apa, dan yang terpenting apa landasan filosofisnya. Ujung – ujungnya hasil akhir adalah segalanya. Ini bisa membuat saya melakukan apapun untuk mencapainya, sebab saya kehilangan rambu dan roh perjuangan. Bukankah akan lebih elok jika saya untuk menentukan segalanya one step at the time, sehingga saya benar – benar memahami sedang ada dimana saya saat ini, apa yang tengah saya kerjakan sekarang dan setelah itu akan kemana, bagaimana caranya dan apa maksudnya.

Hehehe…kok jadi seperti tulisan motivator ya? Percayalah sobat, saya tak mau menggurui. Tulisan saya yang pas-pasan di blog ini, merupakan buah dari apa yang saya pikirkan, dan menjadi pengingat pribadi. Jadi mohon jangan tersinggung, seperti saya belagu dan keminter ya. Have a nice life you all

Mari Bicara Soal Nasionalisme

July 9th, 2010 by Alfito Deannova

id-lgflag

Kalau dipikir – pikir, banyak selebrasi nasional yang secara filosofis bertujuan utama guna menggalang persatuan diantara kita sebagai bangsa. Ada hari proklamasi untuk menyadarkan kita sebagai anak – anak sebuah negara bangsa, hari kebangkitan nasional agar kita tidak minder sebagai inlander, hari sumpah pemuda supaya kita sadar bahwa apapun warna kulit kita, bagaiamanapun lucunya logat bertutur kita, cara kita beribadat dan lain – lain tidak mungkin menghilangkan identitas komunal kita sebagai anak – anak negeri bernama Indonesia. Banyakkan? Tetapi, mari secara jujur kita tanya dalam diri, apakah benar kita telah menjadi Indonesia yang satu?

Berbicara tentang persatuan tidak tuntas rasanya jika tidak berbicara soal nasionalisme, rasa kecintaan terhadap bangsa. Nuansa yang terbangun memiliki kecenderungan positif, sekelompok individu merasa memiliki kesamaan visi dan karenanya bersedia melupakan semua perbedaan berlandaskan sebuah kepercayaan kolektif sebagai satu bangsa. Percaya atau tidak, tanggapan negatif terhadap semangat nasionalisme ini, ternyata tidak sedikit. Einstein mengatakan “Nationalism is an infantile disease. It is the measles of mankind.” Charles de Gaulle malah menegaskan “nationalism, when hate for people other than your own comes first.” Mungkin ini dapat dipahami, karena perang dunia buat keduanya sungguh sangat memilukan. Dua perang dunia yang pernah ada terjadi karena bangkitnya rasa nasionalisme berlebihan yang berujung pada keinginan untuk mendominasi nation lain. Saya tidak bersepakat dengan keduanya. Ketidaksetujuan saya terhadap keduanya ada pada level kualitas nasioalisme. Menurut saya, perang dunia tidak disebabkan oleh ultra nasionalisme. Kecintaan dan pengagungan berlebihan terhadap bangsa, sehingga meremehkan bangsa lain. Untuk itu menurut saya, bicara nasionalisme rasanya masih tetap relevan sekarang.

Nah, sejauh ini nasionalisme seringnya tak lebih dari barang dagangan partai politik. Kata nasionalisme jadi komoditas untuk meraup suara pemilih. Apa implikasinya kepada kehidupan berbangsa dan bernegara kemudian masih sungguh Gelap! Faktanya apa? Lihat saja ajang kontestasi politik dari Sabang sampai Merauke, marak diisi dengan kerusuhan dan kekerasan. Tidak lolos verifikasi, marah, unjuk rasa rusuh. Perhitungan suara kalah, ngamuk, bikin goro – goro. Lah, bapak – bapak, ibu – ibu kita ini adalah orang – orang yang jualannya adalah nasionalisme. Aneh kan?

Pertanyaannya, apakah benar, kita sudah menjadi nation yang utuh? Apakah memang selama ini, semuanya adalah kepentingan aku, kami ketimbang kita? Kalau iya bagaimana Indonesia harus memulainya, sehingga kau, aku dan mereka tuntas membahas diri masing – masing, dan mulai memikirkan kepentingan kita semua? Semua yang utuh…. Semua yang Indonesia

Menjadi Orang Baik

July 5th, 2010 by Alfito Deannova

good man

Sudahkah anda menyaksikan film Saving Private Ryan? Film tersebut bercerita tentang sepasukan tentara Amerika Serikat dalam PD II, yang ditugaskan untuk mencari seorang prajurit bernama James Francis Ryan. Karena alasan kemansiaan, Ryan harus dicari, diselamatkan dan kemudian dipulangkan. Tiga kakaknya yang ikut berperang dimasa yang sama meninggal dunia. Karena itu tidaklah elok jika, si bontot James juga ikut gugur dalam tugas, dan tidak menyisakan sama sekali penerus keturunan bagi keluarga Ryan. Jadilah pasukan yang dipimpin Kapten Frank H. Miller (Tom Hanks) berjibaku dengan maut untuk menyelamatkan nyawa James (Matt Damon). Apa ayal, dalam perjalanan mereka akhirnya satu persatu anggota pasukan tewas, termasuk Kapten Miller. Pesan terakhir Miller kepada Ryan setelah tertembus timah panas tentara Nazi Jerman adalah “Earn this…!” Adegan kemudian beralih kemasa puluhan tahun kemudian, saat James tua berziarah ke makam Miller. Dalam potongan itu, James bertanya kepada sang istri yang turut menemaninya : “Tell me I have led a good life…., Tell me I’m a good man…” Sang istri kemudian menjawab “You are..”

Hari ini, saya tidak kembali menonton ulang film tersebut, tapi ending film yang saya ceritakan tadi kembali menggelayuti benak saya. Apakah selama ini, saya sudah berusaha sekuat tenaga menjadi orang baik? Apakah rasa syukur sudah saya ejawantahkan dengan menjalankan hidup dengan sebaik – baiknya? Atau justru saya menyia – nyiakannya. Puluhan tahun masa berlalu, jangan – jangan sesungguhnya saya telah melupakan betapa selaksa anugerah telah tercurah tanpa saya berterima kasih atasnya. Begitu banyak pengorbanan yang diberikan lingkungan dalam memungkinkan saya ada disini saat ini dan melakukan kegiatan saya, tetapi saya abai terhadapnya. Am i a good man?

Apa sih ukuran baik itu. Apakah standarnya harus obyektif? Artinya kalau orang lain tidak menganggap anda baik, sementara anda merasa telah berupaya sekuat tenaga untuk menjadi orang baik, itu artinya anda pembual, tidak tahu diri atau gede rumangsa? Tetapi kalau ukurannya subyektif, apa malah tidak lebih kacau lagi? Saya yakin anda dan saya memiliki kesamaan. Karena virtue sifatnya konvensional, maka orang baik itu haruslah merupakan pengakuan kolektif. Nah, sekarang pertanyaannya apakah “baik” itu bisa diengeneering? Lebih jauh, apakah bisa direkayasa? Karena kata kuncinya adalah pengakuan publik, maka bukankah yang terpenting adalah bagaimana kebaikan itu mendapat konfirmasi dari lingkungan, bukan apakah anda telah menjalankan hidup sebaik – baiknya dan karenanya menjadi orang baik? Bila begitu ceritanya, maka yang utama adalah bagaiamana kita meyakinkan orang bahwa kita baik dan tool yang paling efektif untuk itu adalah komunikasi. Jika begini, maka “baik” akan kehilangan kemurniannya. Lalu masihkah kejujuran punya nilai dibatas ini?

Saya merasa, peran komunikasi dan interaksi menjadi begitu penting dalam konteks isu yang saya bicarakan ini. Sorry, ijinkan saya bertanya lagi (karena sudah begitu banyak kalimat tanya diatas). Jika seandainya ada orang yang terbaik diantara kita saat ini sebagai bangsa, tetapi hanya karena orang tersebut tak terkomunikasikan, maka dia tidak dan tidak akan pernah menjadi siapa – siapa? Bisa jadi. Apalagi jika dalam kecenderungan yang ada dalam pola komunikasi dalam komunitas kita saat ini terus – menerus terjadi. Tingkat ketergantungan terhadap opinon leader menjadi begitu tinggi untuk menentukan merah sebagai merah dan hitam sebagai hitam, tanpa setiap individu melengkapi diri dengan prakarsa mandiri pencarian kebenaran, maka kita akan tenggelam kedalam lautan stigma dan citra yang memabukkan, mengaburkan dan menyesatkan.

Pernahkah anda ada pada posisi untuk menentukan dimana baik dan tidak baik menjadi begitu membingungkan?

Lurus Hati

June 18th, 2010 by Alfito Deannova

lie

Entah kalau anda, kalau buat saya berbohong itu pasti petaka. Bukan mau sok suci, tetapi saya termasuk orang yang selalu nahas jika menggunakan kebohongan sebagai strategi pertahanan diri atau cara melepas resiko, pasca melakukan sebuah kesalahan. Jadi berdasarkan pengalaman itu, kalau saya memang salah dan ketahuan, ya mengaku ujungnya. Paling tidak saya berpikir nantinya tidak akan rugi dua kali. Dua kali itu maksudnya sudah bersalah, dicap pembohong pula. Ya, sekali lagi, sikap mental itu menjadi pedoman, karena saya tidak cakap berbohong (hehehe…apes).

Kita semua juga tahu, bahwa berbohong itu salah. Maka tak hendak saya membicarakan prinsip moralnya lebih lanjut, mendetilkan duduk perkaranya atau berdalil – dalil tentangnya. Saya hendak berwacana soal adanya dua perspektif berbeda tentang berbohong. Satu pendapat mengatakan, berbohong akan menyelamatkan muka. Potensi menghindarkan diri dari jatuhnya konsekuensi, beban tanggung jawab dan sanksi menjadi alasan yang masuk akal bohong dilakukan. Dan constraint waktunya bisa tak terbatas. Sampai kapan pun tetap nggak mau ngaku. Sementara yang lainnya (ini termasuk saya) mengatakan, berbohong tidak akan ada gunanya, apalagi jika substansi yang menjadi obyek tidak lagi hitam putih, tapi sudah debatable. Jadi denial hanya akan membawa harga diri pelakunya, masuk ke jurang penghindadinaan yang lebih dalam. Mana yang benar? tergantung penganutnya masing – masing, saya enggan menghakimi kanan-kiri.

Saya hanya penasaran soal keteguhan hati seorang yang berbohong, padahal posisi kebohongan itu sendiri sudah rentan, tatkala kebenaran sudah hampir niscaya akan terkuak. Mengapa pertanyaannya menjadi kuantitatif? Karena menurut saya. mempertaruhkan reputasi untuk kemudian jatuh dalam dua lubang yang berbeda (sebagai ‘pendosa’ dan pembohong) dalam kurun waktu yang sama, benar – benar tidak bermanfaat. Sebab dalam fase ini cibiran dan cercaan menjadi sangat – sangat tak terelakkan. Dalam konteksi ini, karenanya menurut saya perlu ada proses menimbang. Bahkan sebelum itu, ketika dusta belum lagi terprakarsa, mengukur langkah pra-bohong rasanya bukan hal yang absurd, untuk kemudian memperhitungkan dan menganalisis dampak – dampak yang akan menimpa si pendusta as if the plan doesn’t come together. Iya kan?

Kalau anda buka Kamus Besar Bahasa Indonesia, dan mencari padanan kata jujur, maka kata pertama yang muncul menjadi sinonimnya adalah Lurus Hati. Orang yang jujur menghendaki agar hatinya selalu berada dijalan yang benar. Menurut tafsir saya, masalah kata – kata ini, bisa menjadi begitu filosofis. Saya yakin tidak ada orang yang ingin jadi penjahat. Kita semua ingin dikenang sebagai orang baik. Walau begitu tidak ada insan yang lepas dari kesalahan, dan kesalahan seharusnya adalah milestone buat saya untuk berusaha menjadi lebih baik. Nah, proses ini akan menjadi terciderai jikalau milestone yang harusnya keramat itu, berusaha dicampakkan jauh – jauh , sembari si pelakunya mengatakan “Nggak ada apa – apa tuh !” atau “Itu bukan saya yang buat!” Disini kemudian, keinginan manusia untuk menjadi baik dimata yang lain dan Yang Lain, menjadi tidak kongruen, tidak sama dan sebangun dengan kelakuannya. Tidak lurus hati.

Hehe sok ilmiah ya…sok pinter… Anjak dari tulisan ini cuma karena saya geregetan aja kok. Oke lah, let me put it this way :

“Mas dan mbak – mbak, mengaku sajalah. Dengan mengaku mungkin ada hikmah yang bisa kami tarik (syukur – syukur anda – anda tarik) dari kasus yang barusan lewat. Kasus anda – anda saja sudah runyam, jangan tambahi lagi dengan mendustakannya.”

NB: tulisan ini ada manfaatnya kalau pihak – pihak tersebut belum mengaku. Kalau tidak berarti basi toh, lewatkan saja ya

Seberapa Gayus-kah Kita ?

June 3rd, 2010 by Alfito Deannova

korupsi5

“Men willingly believe what they wish.”

Gaius Julius Caesar, penakluk dunia dan emperor Roma yang mahsyur itu, mengatakan ini dalam kompilasi tulisan tangannya bertajuk Commentarii De Bello Gallico, Commentaries on the Gallic War. Sebuah memoar pribadi apa yang dilihat, dipikirkan dan dirasa, dibalik perang sembilan tahun melawan orang-orang Galia. Secara bebas quote diatas dapat diterjemahkan menjadi: “Manusia sangat mempercayai apa yang menjadi harapannya atau apa yang diyakininya.” Namun kritikus menguraikannya menjadi makna yang lebih mendalam dari sekedar bernuansa optimistis seperti tadi. Tanpa melihat apakah hal itu halal atau haram, apakah benar atau salah, jika manusia benar – benar setuju akan sebuah ide, mereka juga akan benar – benar mempercayainya dan berjuang hingga hal itu terwujud. Mungkin inilah juga yang menjadi pangkal tolak tekad membalikkan nasib, seorang Gaius lain yang hidup lebih dari dua ribu tahun setelah Caesar dibantai 60 anggota senat di Forum, termasuk anak angkat kesayangannya, Brutus. Pada malam – malam yang gerah dibawah nanungan atap rumah seluas lapangan bulutangkis, di dalam kamarnya yang sempit dan pengap Gayus Halomoan Tambunan muda berjanji pada dirinya sendiri, “Saya harus keluar dari kemelaratan ini!” Dan begitulah, anak muda asal gang sempit dibilangan Warakas, Jakarta Utara itu, mulai menantang hidup. Otaknya yang encer memungkinkannya masuk sekolah plat merah favorit bebas biaya STAN. Diploma pajak pun menjadi pilihan dan kemudian membuatnya menjadi salah satu pegawai Direktorat Jendral Pajak.

Sebenarnya jika bersabar dan bersyukur saja, nasib sudah bermuka manis terhadap Gayus. Terakhir, take home pay yang dikantonginya mencapai 12 juta lebih. Penghasilan itu relatif lumayan, jika mau diperbandingkan dengan rata – rata penghasilan para lulusan D3 di pasar kerja sekarang – sekarang ini. Tetapi tidak, Gayus tidak mau berhenti. Tujuannya adalah To The Extreme ! Menjadi sangat kaya. Jadilah Gayus lalu bermain gila dengan jabatannya. Posisi sebagai penelaah keberatan dan banding di Kantor Ditjen Pajak Pusat memungkinkannya berkolusi dengan pihak – pihak yang tidak ikhlas membayar sebagian uang yang diperoleh dari hasil usaha, untuk memakmurkan bangsa ini. Gayus yang gelap mata, terus menerus bersimbiosis dengan wajib pajak nakal, sehingga sengketa antara wajib pajak dan Ditjen Pajak kerap dimenangkan oleh wajib pajak. Dari semua praktek nista itulah, Gayus diduga mendapatkan seluruh kemilau dunia yang dimilikinya. Rumah mentereng dikawasan elit Kelapa Gading yang minimal berharga 3 miliar, mobil – mobil mewahnya, bahkan diduga dia juga punya properti di Singapura. Wew…!

Tetapikan terlalu naif, jika kita hanya menunjuk hidung ke Gayus seorang. Bagaimana mungkin pegawai golongan III-A bisa bebas bermain patgulipat seperti itu sendirian? Apa tidak ada yang mengawasi dan berkordinasi dengannya? Mustahil itu bisa terjadi jika tidak didukung lingkungan dan sistem kerja yang ‘kondusif’. Jadi sesungguhnya, bukan hanya moral yang rusak, tapi sistem yang tidak beres juga jadi penyebab. Pola pengawasan yang tidak ketat, atau sengaja tidak dibuat efektif jangan – jangan justru memotivasi individu–individu yang ada didalamnya berbuat lancung, baik dengan kesadaran bulat, atau terpaksa. Apakah karena alasan everybody does it, so why dont i, atau karena menghindari intimidasi kolektif-profesional. Maka jadilah kelancungan dilakukan bersama – sama. Jika sudah begini, rasa bersalah sebagai filter moral untuk berhenti korupsi, terima suap atau gratifikasi akan terus menipis. Menjadi sejahtera sekali seperti Gayus karenanya, menjadi hasil akhir yang hampir pasti.

Setelah Gayus, muncul nama Bahasyim Assifie. Semuanya dimulai dari kecurigaan Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan (PPATK), karena Bahasyim punya pundi – pundi yang totalnya mencapai Rp 64 miliar. Kekayaan mantan Kepala Kantor Pemeriksaan Jakarta VII Direktorat Jenderal Pajak, yang kemudian menjadi Inspektur Bidang Kinerja dan Kelembagaan Bappenas tersebut, diduga berasal dari gratifikasi yang diberikan wajib pajak. Uang sebesar 64 miliar rupiah itu dibelah dalam tiga rekening. Rekening istrinya berisi Rp35 miliar dan satu juta Dolar Amerika Serikat, sementara dua putrinya, masing – masing Rp19 miliar dan Rp2,1 miliar. Benar atau tidaknya tentu pengadilanlah yang kelak membuktikan. Sampai saat ini, Bahasyim mengaku uang tersebut adalah hasil jerih payah dalam berbagai usaha yang dimilikinya. Diantaranya perusahaan perikanan yang dimilikinya di Tapos dan bisnis jual beli tanah. Modus yang diduga dilakukan Bahasjim, kurang lebih sama dengan Gayus. Uang yang diperoleh dari aksi patgulipatnya disimpan direkening – rekening orang terdekat.
Apakah selain lingkungan kerja yang kondusif menyuburkan praktek percaloan itu, keluarga memberikan dukungan terhadap pelaksanaan upaya lancung para petugas pajak untuk mempertebal kocek pribadi mereka? Ini logika saya saja, sang istri adalah orang terdekat. Semestinya tahu dari mana asal uang yang didapat sang suaminya. Begitu juga dengan anak – anak yang tinggal seatap. Yang justru mengkhawatirkan, jangan – jangan lingkungan rumah tangga juga memberikan motivasi signifikan. Lagi – lagi saya tidak mau menuduh siapa – siapa, hanya menganalisis berbagai fakta yang ada diatas meja. Karenanya maafkan, jika seolah – olah kesannya melompat kekesimpulan. Tapi jika ya, maka lengkaplah sudah unsur – unsur godaan itu.

Show Me The Money !

Teriakan Cuba Gooding Jr. yang memerankan Rod Tidwell kepada Jerry Maguire (dibintangi Tom Cruise) Show Me The Money ! selalu membuat saya tersenyum, walau sudah menyaksikan adegan itu berulang – ulang. Mau diakui atau tidak, uang adalah alasan sekaligus motivasi yang paling kuat mengapa sebagian besar dari kita rela mengorbankan waktu, keringat, perasaan bahkan jiwa, dalam menjalani hidup bahkan dengan cara – cara yang tidak masuk akal sekalipun. Apalagi hari ini, kita tinggal didunia yang sangat mengagungkan materi. “We are spirits in the material world” kata The Police. Jadi terkadang, tiada lagi kontemplasi, memeras esensi kehidupan, untuk mencari alasan filosofis dibalik rutinitas yang kita jalani saban hari. Untuk apa kita bangun setiap pagi, bergerak sampai jauh malam, dan kemudian terkapar tidur kelelahan. Semua berujung pada tanya : “Berapa jumlah uang di kantong kita?“ Iya kan Bang Iwan……

Jika sudah bicara tentang Show Me The Money ! susah rasanya untuk mengukurnya. Cukup adalah kondisi yang nisbi. Tetapi katanya manusia tidak akan pernah puas dengan apa yang sudah digenggamnya. Mitos PNS yang dulu dikatakan bergaji minim, sedikit demi sedikit harus sudah mulai direformasi kini. Pemerintah ngebut melakukan penyesuaian penghasilan para pegawai negeri sipil, untuk menjaga tingkat kejujuran mereka untuk tidak mencoleng uang negara dan fokus melaksanakan kerja, melupakan proyek – proyek untuk uang tambahan. Tahun ini ada sedikitnya ada lima lembaga yang akan mendapatkan kucuran dana tunjangan tambahan buat para personilnya, yakni Kejaksaan, Kepolisian, BPKP, BKN, dan TNI. Tahun lalu, tiga lembaga sudah menerimanya terlebih dahulu, termasuk lembaga payung kantor Gayus, Kementerian Keuangan. Konon, sebelum ada remunerasi pun di markas bendahara negara ini, gaji pegawainya relatif lebih tinggi dibanding lembaga – lembaga pemerintah lain. Tahun lalu, Kemenkeu menjadi lembaga pertama dari tiga lembaga negara (dua lainnya Mahkamah Agung dan Badan Pemeriksa Keuangan) yang tersentuh program remunerasi. Tunjangan khusus yang sengaja dikeluarkan untuk membuat para civil servant kita lebih tahan godaan duit ini pula, yang membuat Gayus bisa membawa pulang uang Rp12 juta perbulannya. Angka remunerasi itu Rp8,2 juta sendiri. Sekali lagi, niatan negara mengeluarkan tunjangan yang besarnya jauh melebihi gaji pokok itu, adalah agar iman pegawai – pegawai yang sangat dekat dengan hasutan besar untuk korupsi seperti Gayus bisa tetap teguh. Toh, sejauh ini kita melihat kebijakan itu tidak efektif buat Gayus. Alasannya untuk me-makelar-kan diri pun bukan lagi untuk memenuhi hajat hidup dasar, tapi keserakahan. Jadi buat orang – orang seperti Gayus, sesungguhnya berapapun kompensasi dari kerja yang diterima secara legal tidak akan pernah cukup, bukan? Patah sudah alasan yang kerap kali digunakan, bahwa karena gaji kecil PNS akan melakukan fraud.

Selama ini banyak yang menuduh, kaum tua korup, sementara anak – anak muda yang lahir setelah era 60-an memiliki semangat yang lebih reformis. Karena itu wacana potong satu generasi, sehingga kaum muda yang bersih dan dinamis serta anti status quo lebih pantas memimpin bangsa ini, kerap berkumandang. Faktanya usia Gayus tak lebih dari 30 tahun. Kalau kita percaya ia hanyalah tip of the iceberg maka masih banyakkah anak muda yang bermentalitas sama seperti Gayus? Realitasnya, tingkat konsumerisme dikalangan muda mengila akhir – akhir ini. Menjamurnya mall dan selaksa kafe, resto, club, hang out spot, menjadikan anak – anak muda Indonesia penuh dengan hasrat spending yang besar. Mudahnya memiliki kartu kredit, memberikan peluang lebih lagi. Kebutuhan yang begitu beraneka, jelas membutuhkan Tidak, tidak, saya tidak bermaksud mengeneralisasi dan gebyah uyah semaunya. Saya hanya hendak berbagi keresahan. Harapan kita tentu tidak demikian. Tapi jika saya ada pada posisi Gayus, dengan kuasa yang sama dengan yang dimilikinya, dengan kesempatan yang sama pula, tidakkah saya akan melakukan hal yang sama? Atau malah lebih parah dari yang sudah diperbuatnya?

Gayus dan Kita

Gayus bukanlah sekedar potret buram para pegawai pajak. Gayus adalah potret kita semua. Bahkan lewat Gayus kita terpanggil untuk berkaca dan mengintrospeksi diri. Gayus adalah sosok perjuangan orang – orang kecil yang berani menggapai mimpi. Gayus adalah wujud kita yang tekun menapaki jalur terjal kehidupan, sabar dan setia pada cita – cita. Gayus adalah penjelmaan jiwa – jiwa muda yang optimis dan punya tujuan yang pasti. Sayang, lari Gayus begitu kencang, sehingga tidak berhenti pada saat mana ia harus berhenti. Gayus tidak setia pada lintasan yang seharusnya ditempuh dengan sabar dan doa. Godaan potong kompas begitu menggiurkan untuk tiba pada tujuan secepat mungkin, meski tujuan itu sesungguhnya sangat semu karena satuannya adalah rupiah.

Mei ini kita merayakan 12 tahun tegaknya era reformasi. Terbitnya matahari harapan Indonesia baru yang pada tahun 1998 lalu diperjuangkan oleh elemen – elemen pro-demokrasi, sebagai bentuk pemberontakan Orde Baru yang korup dan represif. Dimasa ini 12 tahun lalu kita berjanji, bahwa kehidupan akan menjadi lebih baik. Lalu kini, 12 tahun kemudian, kita masih disini. Tidakkah kita bertanya dalam hati masing – masing, mengapa tetap ada korupsi? Mengapa kolusi bukan lagi barang antik, tetapi mudah kita temukan dalam tayangan televisi, berita radio atau artikel dikoran. Pada sisi penegakan hukum kita juga berteriak keras. Bagaimana mungkin hal – hal busuk ini dapat diberantas, jika para penjaga garda kebajikan saling menyalahkan satu sama lain? Sikap defensiv menjadi mengemuka, dan semerbak nama korps masing – masing lebih dipentingkan, ketimbang melaksanakan kinerja substantif dan bekerjasama? Mengapa polisi dan KPK masih seperti kucing – kucingan. Mengapa anggota DPR kemudian adem ayem, padahal kasus skandal Century yang menyita energi bangsa ini, sesungguhnya belum rampung. Mengapa masih saja ada wakil rakyat yang terkait kasus suap, korupsi dan lain sebagainya ? Kemudian barangkali kita mulai mengangkat telunjuk kita untuk mencari siapa biang keladinya. Siapa yang dapat kita jadikan muara atas masih banyaknya hal – hal yang belum tuntas di negeri ini. Orang – orang macam Gayus? Bahasjim?

Pertanyaannya hakiki dari semua keadaan yang kita alami kini sesungguhnya adalah seberapa Gayus-kah kita. Ya, seberapa besar kita sendiri ingin semua perbaikan dan perubahan yang permanen. Apakah kita sudah memiliki cita – cita yang sama, dalam perjalanan Republik ini mencapai tujuannya. Atau kita masih menyimpan agenda kita sendiri. Yang pada akhirnya, jika kesempatan itu tiba untuk menguntungkan diri sendiri, jika wahana untuk memperkaya diri peribadi dan keluarga itu ada didepan mata, kita juga akan melakukan hal yang sama dengan orang atau lembaga yang kita rutuki selama ini? Ahh…saya ingin memulai dengan bertanya kepada diri saya sendiri, sembari berkaca pada cermin.

(Artikel ini di terbitkan pada majalah Rolling Stone Indonesia edisi Mei 2010)

“When Leader Sings: Please Be Careful With My Heart”

April 1st, 2010 by Alfito Deannova

beye

“Kau tahu rumah Ibu Hartini dicoret – coret ‘Lonte Agung’,‘Gerwani Agung’ dan lain – lainnya? Kau tahu apa artinya lonte? Hartini adalah istriku dan aku adalah Bapakmu, jadi dia adalah juga ibumu. Inikah yang dilakukan anak terhadap ibunya?”

(Gie, Soe. Hok. 1989, Catatan Harian Seorang Demonstran, LP3ES, Jakarta)

Kutipan ini, diceritakan oleh Soe Hok Gie, atas sebuah peristiwa sehari setelah corat – coret dirumah Hartini dilakukan. Soekarno mengumpulkan sejumlah perwakilan aktifis mahasiswa untuk berdialog perihal komentar asusila itu di Istana. Pernyataannya bernada keras dan tegas, tapi ada kehangatan yang terkandung didalamnya. Bingkai yang tepat, dipakai Bung Karno (BK) untuk menyatakan bahwa ini bukan masalah “Aku” ,“Kau” atau “Kalian”. BK dapat meminimalisir kesan private intrest dalam protesnya kepada mahasiswa dan memberi konteks bahwa ini masalah “Kita”. Tidak ada nuansa picisan dibalik pernyataannya, meski siapapun tahu, marahnya BK bersumber dari sesuatu yang sifatnya sentimentil sekali. Yakni kegeramannya atas caci maki terhadap labuhan cintanya yang baru (lagi) rekah, Hartini. Belakangan diketahui tulisan ‘Lonte Agung’ tadi ‘diabadikan’ Guntur, putra sulung BK dari Fatmawati, bukan aktifis mahasiswa. Maka kemasan pesan yang disampaikan BK sebagai respon diatas, membuatnya terhindar dari dua hal : merengek – rengek minta dikasihani dan tuduhan setara fitnah. Well done !

Lalu mari kita bandingkan dengan apa yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang mengomentari unjuk rasa sensasional baru – baru ini, dengan salah satu “point of attraction” menempelkan poster kartun SBY di bokong seekor kerbau, yang juga dinamai SiBuYa :

“Tolong dibahas dan diberi masukan, apakah unjuk rasa beberapa hari lalu di negara Pancasila, yang konon memiliki budaya, nilai dan peradaban yang baik, apakah harus seperti itu? Tanpa mengganggu demokrasi itu sendiri, kebebasan dan ekspresi dan sebagainya, “


Lalu..


“….banyak orang yang memberi masukan yang menggelitik. Pak SBY, apa cocok misalkan ada unjuk rasa dengan loudspeaker yang besar sekali, teriak-teriak, SBY maling, SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling, dan tidak diapa-apakan,”

Lanjutnya lagi..

“Ada yang bawa kerbau, SBY badannya besar, malas dan bodoh seperti kerbau (yang) dibawa itu? Apa ya itu unjuk rasa sebagai ekspresi kebebasan? Lantas foto diinjak-injak, dibakar-bakar di mana-mana”


Pernyataan ini, dianggap oleh sebagian orang sebagai bentuk keluh kesah yang tak perlu, apalagi disampaikan kemuka umum. Langkah SBY dianggap terlalu mengekspolitasi “kezaliman” yang dirasakannya, untuk menangguk rasa simpati yang berujung pada kenaikan rating popularitas dimata publik. Jika ini terus dilakukan, reaksi publik bisa saja berbalik, karena, “trik” yang dimainkan sudah tertebak dan jadi lagu lama. Jangan – jangan komentar seperti “Busyet, my mellow president..” atau bahkan “Cengeng amat sih !” jadi resultante daripadanya. Disisi lain, bagi sebagian pihak, apa yang disampaikan SBY itu wajar – wajar saja. Pasalnya, aksi yang dilakukan sejumlah pengunjuk rasa, 28 Januari lalu tersebut, bukan protes, tapi lebih cocok dikatakan pelecehan. Cobalah bereksperimen sendiri. Suatu ketika cobalah anda memarkirkan seekor kerbau ke halaman rumah. Tempelkan karikatur ayah anda dibokong si chubby itu. Jangan lupa bubuhkan tulisan “Si PapPAp.” Langkah selanjutnya, pastikan ayah anda melihat hewan itu ketika bangun tidur pagi hari. Apa kira – kira reaksinya ?

Lepas dari kontroversi diatas, SBY menanggapi masalah ini secara personal dan bereaksi juga dalam kerangka pikir personal. Entah itu kata – kata siapa, namun kutipan yang berbunyi : “teriak-teriak, SBY maling, SBY maling, Boediono maling, menteri-menteri maling, dan tidak diapa-apakan” menunjukkan bahwa SBY memandang masalah ini dalam konteks “Aku” dan “Mereka” Dari sini kita bisa membandingkan bagaimana perbedaan BK dalam berekasi atas protes yang disampaikan untuknya, dengan SBY. Yang satu menggunakan kerangka makro sebagai landasan keberatan, sementara satunya lagi memilih scope individu. Mana yang tepat?

Komunikasi Politik Gincu


Mei nanti, duabelas tahun sudah era reformasi bergulir. Namun sampai kini, pembenahan yang sangat terasa dalam alam demokrasi kita, baru pada batas demokrasi prosedural, penguatan institusi dan politik pencitraan. Setiap lima tahun kita menyelenggarakan Pemilu, Pilpres, Pemilukada. Undang – undang dibuat atas rembuk intensif, pihak eksekutif dan legislatif. Semua itu masuk kedalam indikator telah terlaksanakanya demokrasi prosedural. Penguatan institusi juga makin terlihat, pada kian berfungsinya lembaga – lembaga simpul demokrasi dalam melaksanakan tugas sesuai amanat konstitusi. DPR, sudah menjadi lembaga penyeimbang eksekutif yang efektif, walaupun beberapa oknumnya masih menunjukkan performa dan perilaku yang memperihatinkan. Begitu juga BPK dan MK yang banyak memberikan kelegaan kolektif kepada rakyat pencari keadilan. Sementara kita masih terus menunggu dan berharap agar MA dan DPD lebih dapat mengoptimalisasi fungsi – fungsi mereka, baik karena alasan pembenahan budaya dan moralitas, maupun revisi berorientasi konstitusional. Yang paling menarik untuk ditilik adalah menggelembungnya effort para politisi, untuk kepentingan pencitraan. Lalu terminologi komunikasi politik pun menjadi satu – satunya tools proxy ilmu kanuragan, seperti yang wajib dimiliki pendekar – pendekar dalam dongeng klasik. Ujungnya, politik (atau politisi) Indonesia terjerembab ke lembah nihilisasi substansi dan memainkan politik etalase. Komunikasi politik gincu kemudian menjadi keniscayaan.

Mari kita bumikan apa yang kesannya sangat konseptual dari tulisan tadi. OK, mari ingat – ingat lagi apa yang terjadi dalam rapat – rapat di Pansus Angket Century DPR. Ahhh…yang pertama anda ingat ketika saya sebutkan Pansus DPR adalah Ruhut Sitompul-kan? Bukan karena konten bicaranya, tapi terminologi yang dipilih, gaya penyampaian dan penampilan. Lalu substansi apa yang anda dapat dari rapat – rapat maraton yang diputar langsung secara terus – menerus oleh televisi tersebut? Selanjutnya, mari kita bicara isi pidato yang memuat reaksi SBY atas demo SiBuYa? Tidak ada jawaban substansial dari aspirasi yang tersuarakan dalam aksi itu, kan? Kalau begitu, kapan kita akan mendapat isi, kalau yang diwacanakan selalu wadahnya saja?

Popularitas adalah faktor krusial bagi seorang kandidat untuk masuk kedunia politik dalam sistem demokrasi. Untuk menjamin tingkat elektabilitas, seseorang harus terlebih dahulu dikenal, untuk kemudian disukai dan pada akhirnya dipilih. Sampai disini, komunikasi politik gincu, masih banyak membantu. Karena itu, di dua kali pemilu terakhir, nama – nama selebriti bertabur di daftar pemilih. Alasannya benar – benar pragmatis. Partai memanfaatkan popularitas pesohor, yang sudah kadung lekat dalam benak pemilih. Sebaliknya, tak sedikit juga, politisi berupaya menselebritisasi dirinya, sehingga familiar bagi calon pemilih. Sekali lagi, dalam fase “baru mau terpilih” komunikasi politik dalam konteks pencitraan diri, memang akan lebih efektif. Tapi tools ini tidak bisa menjadi trik “hafalan,” apalagi buat mereka yang sudah terpilih dan menjabat. Sebab simpati dan apresiasi menjadi akibat dari hasil evaluasi konstituen atas kerja yang dilakukan sang politisi. Tidak bisa lagi, paparan kosmetika, pernyataan dramatis, dongeng tragis, mampu menyihir publik untuk mencadangkan hatinya buat si pejabat. Mengapa? Sebab semuanya sudah terukur. Dalam fase ini, publik akan lebih rasional menimbang kinerja, tanpa histeria dan fanatisme partai, aliran atau pun golongan. Dalam fase ini sejatinya politisi bunga dan gula – gula sudah tidak laku lagi.

Kalau selama ini, komunikasi politik selalu identik dengan upaya pecitraan politik, rasanya harus segera dibenahi paradigma tersebut. Sebab pencitraan hanya bagian kecil dari keseluruhan komunikasi politik sebagai sebuah perangkat sosialisasi. Faktanya, banyak politisi, yang kurang mampu menguasai perangkat ini dengan baik. Berbicara dalam berbagai kegiatan apapun, dalam tema apapun isinya sama. Normatif statement ! Retorika belaka. Apalagi kalau sudah ketemu sama pejabat yang mengandalkan teks dalam berkomunikasi, entah karena terlalu tidak percaya diri mengingat semua yang hendak dikatakan, atau malah terlalu malas berpikir dan mengandalkan para staf memeras otak untuk membuat naskah yang sesungguhnya menjadi cermin seperti apa kinerja dirinya. Dan walapun semua tahu, bahwa bagian ini, selalu di-skip oleh pendengarnya, hal itu tetap saja dilakukan. Aneh kan?

Leader is A Hero For All

Nah, pola komunikasi politik yang menceritakan keterpojokan, diperlakukan dengan sewenang – wenang, dijahati, secara sadar atau tidak kerap dipakai SBY dalam berbagai kesempatan. Saya tidak usahlah mendaftar satu – persatu. Kalau ditanya mana buktinya, media pasti mengarsipkannya dengan rapi. Pada era yang tepat, misalnya ketika pereseteruannya dengan Taufik Kiemas, balik ke tahun 2004 lalu, yang ditandai dengan keluar pernyataan “Jendral Kekanak – kanakan” dari mulut TK, pilihan SBY menggunakan style “terzalim” berbuah dukungan melimpah dari rakyat. Dan dalam beberapa kesempatan lainnya, seperti teror bom Marriot II, dan jelang pemilu 2009 lalu, hal yang sama mungkin masih produktif. Tapi kini, rasanya sudah tidak bisa lagi. Ini malahan akan memperburuk cap yang disematkan oleh beberapa kalangan, bahwa SBY peragu, kurang berani mengambil keputusan dan seterusnya.

Dalam sejarah bangsa ini, sulit mencari padanan pemimpin seperti SBY. Tingkat kepercayaan masyarakat untuknya menakjubkan. Studi yang dilakukan Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Meski turun belasan persen, dibanding sebelumnya, namun tingkat kepuasan publik SBY masih sekitar 70 %. SBY-Boediono sendiri terpilih dengan mengumpulkan jumlah suara yang fantastis, yakni 60 % lebih. Jadi tidak ada alasan sesunggunya untuk ragu – ragu terhadap kepercayaan rakyat. Dalam konteks ini, maka berkeluh – kesah atau terkesan seperti itu, membuat rakyat ragu akan dukungannya.

Salah satu ujian bagi pemimpin adalah, bagaimana ia dapat menghadapi suasana genting dan kritis. Keandalan pemimpin teruji ketika ada pada kondisi distrust dari sebagian para pengikut yang mempertanyakan kemampuanya menyelamatkan dan membawa mereka keluar dari marabahaya. Pemimpin yang paripurna, adalah ia yang mampu mengakomodasi semua golongan, termasuk mereka yang membencinya dan tidak mendukungnya. Pemimpin yang luar biasa justru mampu merangkul kelompok kontra ini, sehingga berbalik mendukung, bukan justru menambah jumlah mereka menjadi lebih banyak. Caranya, ya dengan berbicara soal substansi, bukan sekedar kemasan. Perbedaan yang bersumber pada aliran, paham dan ide akan mudah tereliminasi dengan munculnya rasa keadilan. Keadilan yang didalamnya terkandung kejujuran dan keterbukaan terwujud dalam tindakan, bukan wacana. Sikap pemimpin yang mendikotomi “Saya” dan “Anda”, “Kita” dan “Mereka” akan semakin memperlebar dan memperdalam jurang perbedaan. Pemimpin yang sejati sesungguhnya adalah dia yang bersedia berkorban untuk semuanya, bahkan ketika popularitasnya dipertaruhkan. Dia yang rela menjadi pahlawan buat semua.

I’ll Be Careful With Your Heart

Beranjak dari semua paparan diatas, maka tidak pada tempatnya kemudian pemimpin berkeluh – kesah. Saya kutip kembali pernyataan SBY pada April tahun lalu ketika sejumlah lawan politik menyerangnya menyimpangkan angka DPT secara sengaja :

“Sakit rasanya kita tidak ada niat untuk aneh-aneh dituduh curang dan main dengan DPT. Saya punya perasaan yang lebih dari itu,”

Lalu..

“Saya akan mengalami perasaan yang tidak enak. Saya ingin kalau sudah sepakat dengan DPT untuk pilpres dengan kesiapan KPU dan kita semua, mari kita berkompetisi dengan baik. Saya pun juga ingin berkompetisi secara sehat dan fair, bukan belum-belum hasilnya dibilang curang. Tidak baik demokrasi seperti ini. Saya tidak ingin berkompetisi yang nantinya hasilnya dibilang curang, pemerintah intervensi. Menyakitkan. Dan hati jangan terlalu galak mengatakan curang,”


Selanjutnya…


“Jangan banyak menguliahi soal curang dan tidak curang. Saya juga punya pengetahuan tentang beliau-beliau di masa lalu. Tapi biarlah ini proses pendewasaan demokrasi. Marilah kita sambut masa depan dengan hati yang bersih, pikiran yang jernih dengan suasana membangun aturan main yang baik, sehingga demokrasi makin berkualitas,”

Pernyataan yang terekam dalam sebuah situs internet yang saya jumpai ini, mengingatkan saya kepada penyanyi melankolis yang senandungnya mendayu bak Clif Richard, yang ngetop di-era 90-an, Jose Mari Chan. Satu hitsnya berjudul “ Please Be Careful With My Heart.” Mungkin salah saya menangkap kesan, namun ketika membaca apa yang pernah disampaikan SBY diatas, saya terngiang – ngiang lagu tadi sambil membayangkan beliau, yang kebetulan juga gemar berdendang. Menurut saya, pesan yang ada diatas, bisa disampaikan lebih ringkas, tegas, tak berbunga – bunga, tak berkeluh – kesah, mengandung makna mengayomi semua golongan tanpa dikotomi “Saya” dan “Beliau – beliau.”

Entahlah, mungkin saya agak berlebihan, namun semakin sering para pemimpin kita berkeluh – kesah, saya jadi berpikir, dimana porsi buat ratusan juta rakyat ketika mereka hendak berkeluh – kesah? Ketika orang tua Bilqis tak mampu membayar biaya operasi transplantasi hati buah hati mereka yang bernilai satu miliaran rupiah lebih, Ketika Sinar, bocah berusia 8 tahun asal Polewali Mandar harus kehilangan masa kecil untuk mengurus ibundanya yang stroke dan lumpuh. Ketika belasan anak jalanan disodomi oleh Babe Baekuni. Dimana kepedihan mereka bermuara. Sungguh, jika mau dan ada kesempatan, mereka akan meratap lebih keras dan lebih pilu lagi dari sekedar ngambek belaka. Maka sepatutnyalah, langgam Jose Mari Chan tadi, berbalik menjadi “I’ll Becareful With Your Heart”

Tulisan ini diterbitakan pada rubrik National Affairs majalah Rolling Stone Indonesia edisi Februari 2010

Man, Woman and Relationship

March 19th, 2010 by Alfito Deannova

maybach_man_woman

Saya menulis ini, saat menghabiskan waktu menanti penerbangan yang akan membawa saya ke Surabaya. Saya mencoba menulis dengan smartphone yang sudah saya miliki selama empat bulan (saya ingat sekali karena cicilannya sisa satu kali lagi hehehe…) Saya sempat berjanji, kalau telepon genggam jenis ini saya miliki, saya akan sering-sering menulis begitu ada waktu sedikit senggang. Faktanya, ya biasa. Janji itu lebih banyak terabaikan, ketimbang dilaksanakan. Tetapi entah mengapa, ketika duduk di ruang tunggu sembari menonton tayangan infotainment (apa boleh buat), saya tergelitik untuk menulis ini. Didepan saya, layar kaca menayangkan cerita spekulasi soal hubungan ‘ya-tidak’ Anang dan Syahrini.

Gosip ini memang sudah meruap cukup lama di program-program kabar selebriti. Kebiasaan Anang yang selalu mengecup pundak Syahrini setelah berduet, menjadi pasal penting episode ghibah populer ini berlanjut. Bagaimana tanggapan obyek pembicaraan. Ahh..klasik. “Hubungan ini murni profesional, tetapi kalau Tuhan menghendaki lain, ya itu diluar kuasa kami.Sejauh ini kami hanya berteman” (Nggantung ya jawabannya :) )

Bukan..tulisan ini bukan mau memperpanjang rumor yang mungkin saja bagian dari strategi pasar jualan album barunya Mas Anang. Saya justru menggunakan entry point ‘hubungan profesional’ itu untuk menjerumuskan anda kedalam konsep relasi antara pria dan perempuan. Suatu masa di waktu yang lampau, saya dan seorang perempuan pernah bertukar wacana tentang sejauh manakah hubungan antar dua manusia yang berlawanan jenis kelamin. Saya katakan, ya sebatas kawan. Apapun alasannya, seorang lelaki dan seorang perempuan pasti tidak punya daya untuk mengabaikan hukum alam. Selalu ada unsur physical attraction diantara keduanya. Karena itu konsep karib, kawan akrab dan sahabat antara keduanya menurut saya hanya isapan jempol belaka. Kawan itu memandang saya dengan tatapan aneh. “Kuno banget lo. Gue percaya ikatan tanpa ketertarikan apapun bisa dijalin keduanya,” begitu dia mendebat saya. “Sampai batas apa?” begitu saya memancingnya. “Tidak mustahil keduanya bersahabat!” tukasnya lagi.

Ahh.. Saya tidak percaya itu. Mungkin saya konservatif. Tapi saya yakin, selalu ada gangguan pada kemurnian prinsip persahabatan pria-wanita, yaitu, animal attraction factor. “Tetapi kita dikaruniai akal dan budi untuk bisa mengendalikan itu,” kata kawan saya itu lagi. Ok, mungkin saya terlalu barbar berpikir itu sebagai anjak awal argumen saya. Tapi menurut saya, kesamaan pendapat, visi, tujuan, perjuangan, sepenanggungan, seiring dalam suka dan duka antar pria akan menghasilkan persahabatan. Kalau pria dan wanita? Jawabannya cinta. Karena itu saya bertanya kepada kawan saya itu, “Berapa diantara kawan dekatmu yang lelaki tersebut, yang akhirnya menjadi pacarmu?” Hehe ternyata ada beberapa. I rest my case…

Anda mungkin berbeda paham dengan saya. Tidak apa-apa. Toh, kita merdeka untuk punya pendapat yang berbeda. Tetapi sikap saya masih sama atas hal itu. Saya sendiri, masih menjalin hubungan dengan kawan adu argumen saya tadi. Ahh..anda pasti akan mengatakan “See..! You’re so very wrong dude!” Boleh… Saya tidak keberatan. Sampai saat ini kami berteman sangat baik. Dia bahkan sahabat saya paling dekat sampai saat ini. Juni ini, Insya Allah jika semua lancar anak ketiga kami akan lahir.

Public Sphere Itu Bernama Twitter

February 26th, 2010 by Alfito Deannova

imagesPernahkah anda suatu ketika bertemu dengan seseorang, yang tidak anda kenal, belum pernah anda lihat sebelumnya, ketahui sepak terjangnya, tapi dia mengenal anda. Ya, mengenal anda…? Pernah barangkali, beberapa kali. Ok, sekarang coba anda ingat, dalam perjalanan hidup anda sampai saat ini, berapa diantara mereka tadi, yang berinisiatif menegur terlebih dahulu itu, melancarkan komunikasinya kepada anda dengan mencaci –maki. Mereka menghakimi anda, baik karena perilaku anda, pendapat anda, atau sekedar hanya karena gaya anda berbicara. Kalau tidak mencaci – maki, setidaknya nyinyir, apriori atau sinis. Kembali ke pertanyaan semula. Berapa kali? Tidak banyak rasanya kan? Mengapa demikian? Ini karena adanya psychological barrier yang agak sulit dilalui, dalam konteks komunikasi tatap muka. Kesungkanan dalam berkomunikasi ini terjadi, karena mereka tidak mengenal anda secara langsung, mereka segan dengan anda karena mungkin dalam strata yang mereka bangun dikepala, anda lebih “tinggi” dibanding mereka. Mungkin juga karena penampilan anda “intimidatif.”

Beberapa bulan terakhir ini, saya cukup aktif bersosialisasi di situs jejaring sosial Twitter. Disini, saya memperoleh kesempatan berjumpa dan berinteraksi dengan banyak sekali pihak, yang dalam dunia nyata belum tentu dapat peluang yang sama. Alhasil, apa yang disebut networking lumayan terbangun. Adib Hidayat, managing editor Rolling Stone meminta saya menulis untuk majalahnya. Konsultan  karir Rene Soehardono, memberikan kehormatan kepada saya untuk mengomentari bukunya yang brilian, tentang bagaimana menjalankan kerja dengan hati. Bahkan ada seorang yang sangat saya segani, dan tokoh pemerhati demokrasi yang  menawarkan saya untuk bekerjasama dalam ranah politik. Sungguh, begitu banyak kesempatan yang diperoleh, dan ini belum tentu bisa terjadi dalam dunia tatap muka.

Namun disisi lain, sungguh twittuniverse adalah juga belantara yang kejam. Tiba – tiba ada seseorang yang tak saya kenal berteriak – teriak @mentioning saya. Memaki – maki saya yang kerja di tvone ini sebagai antek pemilik, agen haram kepentingan kekuatan politik yang hendak menggulingkan sejumlah pihak, anti sosial terhadap korban – korban lumpur Lapindo. Atau ‘meludahi’ saya dengan kata – kata pedas, karena ketidakbecusan memandu acara secara berimbang, objektif dan merdeka. Awalnya semua ini membuat saya terkejut – kejut, geram dan hampir frustrasi. Saya tidak pernah memliki reserve untuk menghadapi hal – hal macam ini. Bukan cengeng, tetapi kaget. Bagaimana batas – batas kepatutan dalam komunikasi, yang biasa kita adopsi dan terapkan dalam komunikasi konvensional tidak ada gunanya di Twitter. Awalnya saya mencoba berekasi, mencoba menyampaikan tanggapan balik secara serius. Lama – kelamaan saya sadar, itu sia – sia belaka. Langkah yang paling bijak adalah mengabaikannya. Ya kalau taraf “menggangunya” sudah sampai keubun – ubun block saja. Ada yang marah –marah saya block. Entahlah, mungkin dia sudah sangat orgasmus, karena saya selalu berbaik – baik menanggapi caci – makinya. Dia pikir saya tong sampah yang nggak punya emosi hehehe.

Manusia akan bisa begitu berbeda di dunia maya. Mereka yang sesungguhnya minderan, introvert, kikuk di dunia nyata, bisa begitu artikulatif, luwes dan supel dalam pergaulan di negeri cyber. Mereka yang tadinya tak punya keberanian menyampaikan protes, dapat meledak – ledak dan menjadi begitu militan dalam menyampaikan ide. Tentu selalu ada dampak positif dan negatifnya. Tetapi lagi – lagi akomodasinya atas aspirasi begitu besar. Anda yang tadinya tidak akan didengar jika berbicara di alam nyata, bahkan bisa menjadi ‘nabi baru’ yang mencerahkan buat para follower anda, sekalipun sesungguhnya anda adalah no one. Begitu berkhasiatnya wahana komunikasi baru ini, tak jarang bahkan membuat kita melakukan pengabaian atas komunikasi konvensional. Kita lebih asyik berbicara dalam senyap melalui internet, ketimbang beradu bunyi dengan orang – orang disekeliling kita.

Jika selama ini, media massa konvensional, tidak bisa menghadirkan ruang publik (public sphere) secara sempurna, maka media baru (internet salah satunya) menjamin itu. Ada semangat leberalisme yang begitu kuat, sekat – sekat kasta dan strata menjadi begitu cair dan lepas. Faktor – faktor ini menyebabkan dari situs jejaring sosial merupakan wahana yang mungkin dalam berbagai upaya pergerakan sosial pula. Apakah philanthropic sifatnya, sampai politik revolusioner. Mungkin kalau di zaman Che twitter sudah ada, dia tidak akan masuk ke Bolivia dan berjuang membebaskan tanah air asing lain setelah Kuba dari tirani. Atau Gandhi tidak perlu menyaksikan pengikutnya digebuki polisi untuk menerapkan praktek perlawanan tak bekerjasamanya. Ini baru asumsi, tapi potensi untuk terlaksananya hal tersebut, indikatornya sangat kuat.

But i reckon, the big and best part of it hasn’t yet to come. Soon i suppose. Siapa yang akan membuktikan dan menunjukkannya kepada kita. That revolt is on by cyber propaganda.

Does Pansus Give Politics A Bad Name?

February 8th, 2010 by Alfito Deannova

Sebagian terkejut, lainnya gemas, jengah, bahkan marah. Ketika kata “Bangsat!” meluncur deras dari mulut Ruhut ‘Poltak’ Sitompul, anggota pansus Century asal fraksi Demokrat, ketika bersilang pendapat dengan wakil pimpinan rapat pansus Gayus Lumbuun. Masalah sebenarnya sepele saja. Ruhut menganggap, Gayus tidak adil memberikan porsi bicara dan bertanya kepada masing-masing anggota. Ruhut menuduhnya pilih kasih kepada anggota-anggota fraksi asalnya, PDI Perjuangan. Lalu melompatlah kata-kata sembarang insecta jelek yang kerap menghisap bokong Anda ketika nonton film di bioskop-bioskop murahan dari mulut pengacara sekaligus pesinetron komedi tadi. Lalu kita pun berteriak: ”There you go…Touch down one more time!”

Untuk kesekian kalinya, kita menyangsikan tepat tidaknya keputusan kita menjatuhkan pilihan kala Pemilu Legislatif beberapa bulan lalu. Buat yang memang anti memilih, kejutan dari balik agungnya kompleks gedung DPR/MPR itu semakin membuat yakin akan prinsip yang Anda anut. Itulah fakta yang kita dapati hari-hari ini. Kalau mau tega, dan membuat kekecewaan mengiris-iris kesadaran demokrasi, mari kita kenang lagi apa saja yang sudah dibuat wakil-wakil rakyat yang terhormat selama era reformasi. 2001 baku pukul, 2005 ada yang melompat meja bak aktor film laga, lalu selanjutnya ada episode-episode tentang foto perselingkuhan, korupsi, terima suap dan lain-lain. Tambahkan lagi sendiri catatan di atas, saya yakin Anda pasti punya daftarnya.

Mengapa anggota-anggota dewan kita makin hari kian melupakan substansi dan seperti hendak menegaskan, bahwa gelar wakil rakyat itu klise sepenuhnya buat mereka? Seolah-olah kita, yang “pemegang kedaulatan sejati” Republik ini tidak pernah ada, tidak pernah acuh dengan tutur dan tingkah polah mereka, serta tidak bisa membaca semua yang sesungguhnya serba telanjang itu. Apakah pragmatis nian para anggota dewan tersebut berpikir, sehingga rakyat tak lebih dari angka-angka. Bilangan-bilangan jumlah yang menjadi personifikasi tiket terusan, guna menjejakkan kaki di ruang megah, tinggal di perumahan serba bersubsidi dan memperoleh gaji setara dengan lima sepeda motor bebek keluaran baru, yang dicicil kembang kempis oleh pekerja kelas menengah? Apakah kita hanya menjadi penting lima tahun sekali buat para legislator? Jawabannya sudah pasti ya dan tidak. Jika “ya” pilihannya, berhenti sudah kita berwacana. Artinya memang selama ini wakil rakyat kita tidak pernah sepenuhnya mendengarkan hati nuraninya dan suara rakyat yang harus diperjuangkan. Maka, menjadi anggota DPR hanyalah predikat dari mata pencaharian lain seperti menjadi pegawai, buruh atau pengusaha. Kalau jawabannya “tidak”, ini juga tak kalah memprihatinkannya. Sebab itu menandakan mereka tak paham siapa mereka, apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melaksanakan fungsi dan kerja mereka sebagai legislator dengan benar.

Ada dua hal penting yang mencuat dan mempengaruhi tatanan pola komunikasi sosial di Indonesia, yang menjadi fenomena seiring dengan dimulainya masa bakti DPR/ MPR periode 2009/2014. Pertama, kedigdayaan penggalangan opini di situs-situs jejaring sosial dunia maya, yang bahkan jika dikelola dengan benar dan sungguh-sungguh dapat lebih efektif sebagai kekuatan penekan, ketimbang unjuk rasa atau lobi konspirasi politik. Dan yang kedua, pola siaran langsung rapat dan sidang yang terkait dengan isu-isu terhangat berita oleh televisi.

Reality Show Itu bernama Pansus Century

Kita tentu masih ingat, bagaimana seperti air bah yang menggulung deras, para Facebooker menggalang kekuatan menekan, lalu menyebabkan dua pimpinan KPK Chandra Hamzah dan Bibit Samad Riyanto akhirnya terbebas dari semua sangkaan yang membelit mereka. Hal yang sama juga terjadi dengan Prita Mulyasari. Melalui tweets dan update status, dunia maya melakukan “perlawanan” terhadap vonis yang dijatuhkan terhadap Prita dalam kasus perdata pencemaran nama baik R.S Omni Batavia. Koin-koin dari seluruh penjuru negeri mengalir dengan akumulasi yang fantastis. Terakhir jumlahnya mencapai 800 juta rupiah lebih. Koin-koin yang jika diangkut harus mengerahkan sedikitnya lima truk pasir itu adalah bentuk kegelisahan kita akan rasa keadilan, orang-orang yang merasa sama terpinggirkannya dengan Prita.

Kedua fakta diatas menunjukkan, betapa siapa pun yang masuk dalam lingkup ekspose media massa akan menjadi objek polarisasi pro-kontra wahana public sphere alam cyber. Proses tarik-menarik itu kemudian akan memunculkan pemenang dalam hukum besi ranah sosial: Dominasi Mayoritas. Pemenang akan menentukan arah angin, dan realitas benar-salah sebuah perkara. Misalnya, tentang skandal bailout Bank Century. Awalnya, opini dominan yang muncul ke permukaan dalam diskursus wacana publik adalah soal uang 6,7 trilyun rupiah yang diduga penggunannya menyimpang dari tujuan awal menyelamatkan bank imut, namun dikatakan berdampak sistemik terhadap perekonomian nasional. Lalu terbentuklah panitia khusus hak angket Bank Century. Sampai batas ini, suara-suara optimis dan positif memotivasi agar pansus bekerja dengan baik dan mengungkap seterang benderang mungkin, apa gerangan semua yang ada di balik keputusan bail out itu masih menjadi juara. Namun belakangan nuansa aspirasi yang beredar di forum-forum Internet dan jejaring sosialnya mayoritasnya menjadi semakin unfavorable buat pansus.

Tak dapat dipungkiri, ada sejumlah Spin Doctor atau orang yang memang berdedikasi untuk membangun opini demi kepentingan pihak-pihak tertentu, dengan jalan merusak citra, menghembuskan rumor atau pencitraan buruk pansus yang bermain di jejaring cyber. Tapi kalau mau jujur, tanpa mereka pun para anggota pansus tetap kehilangan kepercayaan dari publik. Penyebabnya tak lain dari blunder yang mereka buat sendiri, yang tertangkap dengan sempurna oleh lensa-lensa kamera jurnalis televisi. Belakangan, sejumlah isu penting pemberitaan terus mendapat perhatian khusus media televisi, dengan treatment yang juga spesial. Setidaknya hal tersebut dilakukan oleh dua televisi yang berbagi segmen pasar yang sama, Metro TV dan tvOne. Tak tanggung-tanggung siang dan malam keduanya menghadirkan siaran langsung jalannya rapat pansus yang kebetulan agendanya meminta keterangan sejumlah nama kesohor di republik ini. Spesial saya katakan, karena dengan melakukan itu, komitmen iklan yang wajib dilakukan keduanya sedikit banyak akan ternomorduakan. Tapi itulah harga sebuah persaingan barangkali. Adanya dua televisi yang hadir terus menerus di ruang sidang tersebut seharusnya membuat para anggota pansus semakin alert. Mulai dari bagaimana bersikap (masih ada yang tidur di rapat seramai itu), gaya bertanya, pemilihan diksi dalam kalimat yang dilontarkan, sampai bijak memutuskan poin penting-tidak pentingnya isi pertanyaan. Namun entah mengapa keberadaan live-cam tidak berpengaruh banyak buat mereka. Siaran langsung dua stasiun secara nasional bahkan telah membuat sebagian anggota pansus makin overacting. Coba kita ingat-ingat lagi, betapa yang kita saksikan begitu menyesakkan dada. Si A misalnya, tidak sadar bahwa fungsi mikrofon adalah mengamplifikasi suara, toh tetap saja dia merasa harus berteriak-teriak ketika melontarkan pertanyaan. Si B sangat senang mendengarkan suaranya sendiri, sehingga berbicaralah ia berpanjang-panjang sampai ketika di poin pertanyaan kemudian kehilangan inti. Si C malah hendak mensimulasi diri sebagai jaksa dalam ruang sidang, ”Anda saya tidak minta menjelaskan, jawab saja ’ya’ atau ’tidak’. Sudah-sudah, jangan terlalu memaparkan. Anda menjawab seperti apa yang saya tanya. Ini Pansus, ada hukumnya. Anda kan tidak mau dituduh kemudian melakukan tindakan contempt of parliament.” Apa gerangan yang ada di kepala mereka? Tidakkah mereka tahu, mempertontonkan semua itu akan mengaburkan inti agenda rapat pansus. Masyarakat kemudian hanya akan mengingat show yang dipirsa lalu melupakan substansi. Adakah disadari, selepas teater yang bernama Pansus Century yang dikemas oleh para pelakonnya menjadi proxy reality show itu, yang tersisa di benak ini hanyalah tingkah laku anggota dewan yang sebagian besar terekam dalam kesan negatif? Dalam stadium kekesalan akut seperti itu, apapun rekomendasi final pansus dikhawatirkan akan menimbulkan reaksi backfire dari rakyat. Dan pansus yang sudah berlelah-lelah melakukan rapat marathon tidak meninggalkan impresi positif apapun selain cangkang-cangkang atributif yang hampir semuanya bernuansa buruk.

Feedback and Permanent Campaign

Simpati dan kepopuleran adalah modal awal untuk setiap kandidat politisi yang dipilih (elected candidate) dalam sistem demokrasi. Seseorang harus melewati fase dikenal, disukai untuk kemudian dipilih. Image building process akan berakhir dengan terpilih atau tidak terpilihnya seseorang. Seorang politisi tidak boleh menganggap bahwa babak pencitraan sudah berhenti setelah terpilih. Ada lagi fase image maintaining process, yang diejawantahkan dalam melaksanakan kerja dengan baik berorientasi kepuasan pemilih. Inilah upaya yang disebut sebagai Permanent Campaign oleh Sydney Blumenthal, yakni upaya terus-menerus politisi dalam menjaga level elektabilitasnya. Sehingga di masa mendekati pemilihan umum, politisi tidak perlu bekerja mati-matian memperoleh simpati pemilih. Faktanya, itulah yang terjadi dalam politik Indonesia. Konstituen patah arang dengan perilaku kandidatnya lima tahun lalu. Mereka kemudian menjatuhkan pilih-an pada kandidat lain dalam pemilihan. Itulah sebabnya di masa bakti 2009-2014, ada 70% wajah baru di DPR. Jika orientasi kerja adalah tingkat kepuasan konsumen, maka dua fenomena yang sudah kita ulas di atas, siaran langsung TV dan forum interaksi sosial di Internet sebenarnya memberikan tools yang produktif bagi para anggota pansus untuk menyelesaikan investigasi kasus Bank Century.

Secara hakikat, forum rapat itu tidak hanya dihadiri oleh pansus dan siapapun yang mereka mintai keterangan. Tetapi ada jutaan peserta pasif yang mengikuti jalannya pansus, yang dapat memberikan feedback lewat situs jejaring sosial, apakah itu Facebook, Twitter, Koprol, Kaskus dan masih banyak lagi. Anggota pansus fokus berkonsentrasi pada kerjanya yang substansial, mengungkap apakah keputusan bailout sudah tepat, begitu juga penyaluran dana itu sendiri. Mereka dapat terus menerus memantau Internet guna mendapatkan umpan balik dari masyarakat yang menonton rapat mereka, berupa feeding aspirasi. Anggota dewan kemudian melakukan delivery extract feeding dari apa yang mereka baca dari Internet. Jika ini terjadi, maka praktik demokrasi nyaris sempurna. Nyaris karena akses terhadap internet masih dimiliki sebagian masyarakat. Tapi paling tidak yang sebagian itu bisa digunakan untuk sampel guna memproyeksi aspirasi publlik. Masalahnya kini apakah memang itu yang mau dijalankan oleh anggota dewan. Sebab kita masih apriori, apa landasan dasar yang menjadi anjak kinerja mereka, kepentingan rakyat, golongan atau jangan-jangan kepentingan pribadi?

Demokrasi Sebagai Aset, Bukan Liabilities

Mengikuti kasus Century membuat saya kembali tergerak membuka-buka kembali text book yang saya pakai untuk menuntut ilmu di FEUI sepuluh tahun lalu. Dari semua literatur yang saya baca, saya kemudian menangkap sebuah prinsip dasar dalam ilmu akuntansi, yang entah kenapa kemudian menjadi sangat relevan dengan apa yang terjadi di ruang rapat pansus.

“Substance Over Form” yang secara bebas terjemahannya adalah bahwa esensi atau isi dari sebuah fenomena, entitas atau transaksi akan menjadi lebih penting daripada bentuk format atau kemasan resmi yang membalutnya. Kalau kemudian kita konversi prinsip ini ke dalam analogi, maka ini sama saja dengan imbauan agar manusia lebih mengutamakan pentingnya isi dari sampirannya. Ketika sebuah negara seperti Indonesia sangat mempercayai demokrasi sebagai sistem politiknya, maka lembaga-lembaga negara sebagai elemen dasar pembentukannya harus juga diberdayakan secara optimal. Jangan sampai kemudian keputusan berdemokrasi kita sesali, atau out of the blue muncullah pemikiran, bahwa demokrasi tidak akan pernah cocok untuk bangsa ini. Bagaimana tidak, demokrasi adalah soal pembagian kekuasaan tetapi secara kasat mata kita terus-menerus menyaksikan siapa yang in control tetap melakukan abuse of power baik dalam skala ringan maupun berat. Korupsi masih sulit dituntaskan, undang-undang politik dibuat sebagai resultante kompromi kekuatan-kekuatan partai. Pemandangan tak sedap ini terus menerus kita lihat, dengar dan baca di media.

Suatu ketika kawan yang saya kenal benar sebagai seorang demokrat tulen berkata: “Indonesia sepertinya tidak butuh demokrasi, yang kita butuhkan hanyalah seorang kaisar yang arif bijaksana, cinta rakyat, mau berkorban untuk orang banyak dan menegakkan disiplin buat melayu-melayu seperti kita, yang cinta dan sangat gemar mengaplikasikan tatanan disorder.” Bergidik saya mendengarnya, tapi hati kecil saya sedikit banyak menimbang apa yang disampaikannya. Jadi adakah kita masih sepakat berdemokrasi? I know I would!


(diterbitkan oleh Rolling Stone Indonesia Februari 2010. Hyperlink : http://www.rollingstone.co.id/read/2010/01/26/599/8/2/Does-Pansus-Century-Give-Politics-A-Bad-Name)


Google Sitemap Generator