Kabar Ekonomi
RI akan Kembangkan Lima Kawasan Industri CPO
Rabu, 02 December 2009 12:35 WIB
Nusa Dua, (tvOne)
Indonesia akan mengembangkan lima kawasan industri CPO, untuk memperkuat mengembangan industri tersebut dari hulu ke hilir, agar dalam jangka panjang Indonesia menjadi produsen terbesar CPO dan produk turunannya di dunia.
Ke lima kawasan pengembangan industri CPO tersebut yakni Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. "Kami akan membangun lima klaster industri yang kini sedang dipersiapkan dalam program 100 hari. Yang pertama kami sebut koridor Kawasan Ekonomi Khusus Jawa artinya pantura, Koridor Pantai Timur Sumatera, Koridor Kalimantan, Koridor Sulawesi dan Koridor Merauke," kata Menko Perekonomian M Hatta Rajasa.
Usai pembukaan "Indonesia Palm Oil Conference & Price Outlook 2010," di Nusa Dua, Bali, Rabu, Hatta mengatakan, koridor tersebut akan menjadi "food estate" yang akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas infrastruktur, kawasan industri, serta insentif baik fiskal maupun non fiskal.
Namun, Hatta belum bisa menjelaskan secara rinci jenis insentif apa saja yang akan diberikan pemerintah, kecuali komitmen pemerintah dalam program 100 hari menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai fokus utama.
Menurut dia, konsep KEK tersebut akan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP). "Dengan pola itu saja, sudah ada yang berminat. Jepang melalui Dubesnya sudah menyatakan berminat mengembangkan itu," katanya.
Ia yakin bila Indonesia mengembangkan pola terintegrasi yang berbasis sumber daya yang ada, maka Indonesia akan mampu meningkatkan daya saing kompetitif maupun komparatif.
Sejumlah daerah, yang tengah menyiapkan kawasan industri untuk CPO tersebut antara lain Riau di Kuala Enok, Kalimantan Timur di kabupaten Malloy, dan Sumatera Utara di daerah Sungai Mangke.
Industri CPO merupakan industri yang penting bagi Indonesia karena memiliki daya saing tinggi dan menciptakan banyak lapangan kerja. Saat ini sektor tersebut melibatkan sekitar 3,5 juta tenaga kerja, katanya.
Produksi CPO nasional pada 2009 diperkirakan akan menembus angka 20 juta ton, naik dibanding tahun lalu yang mencapai 19 juta ton, dengan ekspor mencapai 12,9 juta ton.
"Seharusnya Indonesia sebagai produsen terbesar CPO juga menjadi pemimpin harga. Kita sudah mulai dengan bursa berjangka . Jadi sudah saatnya dan harus dimulai," katanya. Ia berharap pengusaha bekerja sama dengan pemerintah menuju pencapaian Indonesia sebagai penentu harga CPO dunia tersebut.
Banyak tantangan
Sementara itu, Menteri Pertanian Suswono mengatakan dalam pembangunan industri CPO yang besar di Indonesia menghadapi banyak tantangan dunia, terkait isu emisi gas buang bahwa perkebunan sawit mengeluarkan emisi gas buang yang besar akibat penggunaan lahan gambut yang ditengarai mengeluarkan gas metan.
Ia menilai ada salah paham dalam hal tersebut, karena penggunaan lahan gambut tidak menggunakan gas metan, namun CO2. "(Pembukaan lahan) Sawit itu tidak membahayakan sepanjang aspek lingkungannya diperhatikan," ujarnya. Selain itu, tantangan lain adalah produktivitas lahan sawit yang masih rendah.
Ia mencontohkan Malaysia mampu memproduksi CPO sebesar 16 juta ton dengan luas lahan empat juta hektare. Sedangkan Indonesia hanya 19 juta ton dengan luas lahan mencapai tujuh juta hektare.
"Produktivitas (CPO) kita rendah, karena sebagian besar merupakan perkebunan rakyat dengan tingkat produksi hanya mencapai 1,5-2 ton per hektare. Sedangkan perkebunan swasta mencapai tujuh ton per hektar, dan lahan milik BUMN mencapai empat ton per hektare. Kami berharap swasta bisa membina (perkebunan rakyat) agar produktivitasnya naik," katanya. (Ant)
ed