Kabar Sosial Budaya
Kardinal Tauran Kagum Atas Keharmonisan Umat Beragama RI
Selasa, 01 December 2009 23:30 WIB
Jakarta, (tvOne)
Presiden Dewan Kepausan Dialog Antar Agama Tahta Suci (PCIRD) Kardinal Jean-Louis Tauran mengagumi harmonisasi kehidupan umat beragama di Indonesia yang terwujud berkat filosofi Pancasila.
Hal itu dikemukakan oleh Kardinal Tauran seusai pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Marty M Natalegawa di Gedung Departemen Luar Negeri Jakarta, Selasa (1/12), di sela-sela lawatannya ke sejumlah daerah di Indonesia. "Kunjungan yang sangat menarik dan saya ingin berterima kasih pada keramahan semuanya, jika saya harus menyimpulkan kesan saya semua, saya akan gunakan satu kata, `harmoni`," kata Kardinal Tauran.
Menurut dia, Indonesia, berkat filosofinya, Pancasila, memiliki kemungkinan besar untuk menyandingkan keberagaman dengan persatuan. "Pesan saya, Indonesia harus mempromosikan kepada dunia agar Indonesia bisa menjadi model bagi negara lain. Saya berharap, ini akan menjadi terkenal," ujarnya.
Sementara itu terkait dengan dialog antar agama, ia menilai, ada banyak kesamaan pandangan antara sejumlah agama yang berbeda-beda. "Kami menemukan banyak kesamaan. Semua agama punya pandangan yang serupa, kita percaya pada perdamaian, kita percaya pada martabat manusia, kita percaya pada kehidupan sesudah mati, dan kita harus bekerja sama dalam isu ini," katanya.
Ia mengatakan, pada akhirnya dialog antar umat agama harus dapat menyumbangkan sesuatu kepada masyarakat umum untuk disebar luaskan, agar semua orang memahami bahwa tidak seorang pun bisa bahagia tanpa orang lain. "Agar dunia ini bisa didiami bersama sebagai satu keluarga, kita harus menyebarkan toleransi hingga persahabatan," katanya.
Sementara itu menurut Menlu, Kardinal Tauran memberikan apresiasi yang besar pada kerukunan antar agama dan harmonisasi kehidupan beragama di Indonesia. Kardinal Tauran berada di Indonesia sebagai tamu Deplu RI sejak 24 November hingga 2 Desember 2009. Selama kunjungannya, Deplu RI bekerjasama erat dengan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Kedutaan Besar RI di Vatikan serta Kedutaan Besar Tahta Suci di Jakarta.
Kunjungan Kardinal Tauran di Indonesia untuk pertama kalinya tersebut, dinilai oleh Pemerintah Indonesia sebagai bukti adanya pengakuan dari Tahta Suci akan arti penting peran Indonesia sebagai promotor dalam kegiatan dialog lintas agama di berbagai tingkatan. Termasuk dukungan terhadap kebijaksanaan yang diusung Indonesia dalam hal pemberdayaan kaum moderat sebagai upaya yang tepat dalam pemberantasan terorisme dalam jangka panjang. Sekaligus sebagai salah satu upaya dalam menjawab tantangan stereotip negatif Barat terhadap Islam.
Selama kunjungannya tersebut, Kardinal Tauran bertemu dengan tokoh-tokoh agama di Indonesia antara lain Ketua PB NU Hasyim Muzadi, Ketua Umum Muhammadyah Din Syamsuddin, Persekutuan Gereja Indonesia (PGI) serta kunjungan ke Wahid Institute. Disela-sela kunjungan dinasnya, Kardinal Tauran juga melakukan kegiatan pastoral di Bali dan Makassar, dan mengunjungi Universitas Katholik Atma Jaya Jakarta. Serta memberikan kuliah umum di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan bertemu dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X.
Kardinal Tauran diajak untuk melihat secara langsung wajah kerukunan kehidupan beragama di Indonesia melalui kunjungannya ke tempat-tempat ibadah yang telah berdiri sejak dahulu, dan menjadi lambang dari hubungan harmonis antar umat beragama di Indonesia, seperti Masjid Istiqlal dan Gereja Kathedral di Jakarta, serta Gereja Ganjuran dan Candi Borobudur di Jawa Tengah. (Ant)
ai